Apr 12, 2023

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah tapi sebentar, kadang merasa bersalah tapi sebentar saja. Jadi sepertinya memang harus dicurahkan seperti ini sebagai prosesku menerima kepergian Papa.


Banyak hal yang masih ingin aku sampaikan buat Papa. Tentang hari-hariku di Malang, tentang Janu dan kebiasaan-kebiasaannya yang makin mirip Papa.

Tentu saja aku ingin tahu tentang perasaan Papa dua tahun terakhir ini, pasti tidak mudah buat Papa untuk adaptasi di fase hidup Papa baru. Tapi aku begitu egois, merasa penuh dengan kehidupanku sendiri, sehingga Papa ada di nomor sekian dalam prioritas-prioritas kehidupanku saat itu.


"Aku kangen Papa. Aku sayang Papa."

Andai aku punya banyak keberanian untuk bilang itu langsung ke Papa waktu Papa masih ada. Aku ingin Papa tahu itu, aku kepingin Papa tahu kalau aku masih butuh Papa. 

Aku ingin Papa tahu kalau Papa sangat berarti buatku selama ini.

Aku juga ingin tahu, apa Papa bangga ke aku? Apa Papa betul-betul bahagia punya anak seperti aku? Rasanya belum banyak hal yang bisa aku beri buat Papa.

Bahkan terakhir kali kita bicara, kita habis bertengkar. Aku ingat tatapan Papa terakhir buatku: tatapan sedih dan bersalah. Seharusnya aku yang mengalah, dan aku begitu pengecut untuk mengakui itu.

Aku menyesal karena itu. Ada banyak tangisan yang susah keluar karena mengingatnya. 


Hari terakhir aku melihat tubuh Papa, aku hanya berani memegang pipi Papa, menangis sambil berusaha agar suaraku terdengar jelas
di dekat telinga Papa.

Pipi Papa masih sedikit hangat dan aku harap permintaan maafku hari itu masih terdengar Papa.


"With you far away, I still think of you a hundred times a day"


Playlist tentang Papa

Apr 21, 2022

​Januari adalah bulan pertama dan banyak hal terjadi untuk pertama kalinya di bulan itu.


Salah satu hal yang membekas adalah saat pertama kali aku meninggalkan Janu di rumah (bersama ayahnya).

Bagi orang lain mungkin hal itu terdengar remeh, tapi tidak buatku. Saat itu usia Janu sudah 2 tahun lebih 2 bulan, sudah masanya ia sadar dan terbiasa bahwa selalu ada aku di sisinya. 

Meskipun dia sedang kesal dan marah padaku, ujung-ujungnya dia selalu mencariku untuk sekedar peluk dan gendong. Jadilah aku ini semacam tempatnya kembali dari apapun yang sedang dia kerjakan.


Kemudian suatu hari di bulan Januari 2022, tiba-tiba team leader proyekku memutuskan bahwa tim harus bertemu untuk diskusi tatap muka di kampus. Diberi kemewahan dan kenyamanan berupa kesempatan bekerja secara daring, instruksi itu cukup membuat aku panik.

Tidak mungkin aku membawa Janu ke kampus karena pasti dia akan mondar-mandir penuh ingin tahu. Di sisi lain kalau aku sudah tidak enak hati untuk (sering) menolak permintaan TL-ku.

Jadi hari itu aku memutuskan untuk meninggalkan Janu di rumah. Kebetulan ayahnya sedang tidak masuk kantor karena sedang mengawasi renovasi rumah kami.

“Aku ke kampus naik gojek. Nanti jemput aku ya.” Itu spontan aku ucapkan. Tiba-tiba aku merasa aku harus memberikan tantangan juga untuk ayahnya Janu, karena selama ini Janu belum pernah pergi jauh berdua saja dengan ayahnya :P


Dan.. aku pergi begitu saja.

Sepanjang jalan aku terus mengirim pesan ke si ayah.

“Janu ngapain?”

“Dia nyariin aku nggak?”

“Nangis nggak?”

“Habis ini waktunya mandi.”

“Kalo ada bakso lewat beliin aja biar anteng.”

Dan dibalas singkat-singkat sama bapake 😅

Dec 11, 2021

things you need to forgive yourself for

"1. Write about things you need to forgive yourself for." 

mungkin yang paling harus aku maafkan dari diriku adalah terlalu berlebihan dalam mengungkapkan emosi. 

adalah baikbaik saja kalau aku terkadang marah dan memprotes keadaan. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang menangis tanpa perlu menjelaskan sebabnya. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang merasa amat sangat senang sampai senyuman ini membuat mata menyipit. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang terlalu mencintai meskipun tidak masuk akal menurut orangorang kebanyakan. 

 adalah baikbaik saja untuk jujur menunjukkan dirimu yang sebenarnya, sesekali, tanpa merasa perlu pembenaran atau validasi.

Oct 5, 2021

the warmest memory

aku tumbuh dengan banyak kekesalan di hati yang menumpuk setiap saatnya. 
kekesalan hati dari keluarga, dan tidak semua paham dengan hal ini. (seharusnya aku juga tidak meminta orang lain buat memahami ini, tapi kadang aku lelah.) 

 suatu hari saat, seperti biasa, aku berdebat dengan mama lewat pesan singkat. kita tahu pesan singkat sukar merefleksikan apa yang sebenarnya dirasa. jadi aku rasa kami sama-sama salah mengartikan emosi masing-masing...kami menjadi lebih sering bertengkar saat lebih sering tidak bertemu. 
"ingat, dia dulu pernah berjasa juga buatmu." seolah-olah hal yang aku ingat selalu keburukan papa. 
ya memang.. untuk saat ini banyak hal buruk yang selalu kuingat tentangnya. banyak kepedihan hati datang dari sikapnya yang pasif, sikap yang tidak melindungi keluarganya sendiri. 

tapi..justru..hal yang sering kuingat saat aku punya anak sekarang, adalah beberapa kehangatan yang pernah aku rasakan dengan papa. jauh saat aku masih kecil, masih TK saat itu. 
saat aku belum mengenal benci dan persoalan harta. persoalan gender. 
persoalan keterbisaanku. 

 jawabanku: disuapi makan sebelum berangkat sekolah berupa nasi dan ikan goreng yang dikepal bulat-bulat olehnya. makananku selalu habis saat itu. 
 sering kupraktikan pada anakku, 
dan sering membuatku tersenyum getir saat teringat kenangannya.

Jun 16, 2019

Kamu Ada

Catatan 3 April 2019


Suatu hari seorang teman mengeluh, "Sekarang tampilan instagramku penuh dengan foto bayi. Sejak menikah dan punya anak, mereka suka upload tentang bayiiii terus"
Aku tertawa sedikit sambil memaklumi, "Sudah beda interest dan concern, Ti."
Dunia mereka pasti tentunya berubah.
Dan mungkin suatu saat aku akan sering menuliskannya.
Seperti saat ini.

Hari ini aku bertemu dengan beberapa teman dekat untuk berfoto bersama. Mungkin itu adalah sesi foto terakhir bersama mereka sebelum aku meninggalkan Bandung. Pertemuan kami berakhir pada sore hari, tinggal aku dan seorang teman yang ingin lebih lama untuk mencari mainan.
Aku memisahkan diri dari dia sebentar, lalu menuju satu drug store.
Setelah itu, temanku itu mencariku dan mengajak pulang.
Di tengah mall, rupanya sedang ada festival durian, buah favoritku.
Dia melontarkan ide bagaimana kalau kami makan durian dulu sebentar.
AKu agak ragu, lagipula entah kenapa aku tidak begitu ingin memakannya, tapi toh tetap kuiyakan juga akhirnya.
Kami makan durian sebuah, dan rasanya benar-benar nikmat.
"Memangnya orang hamil beneran nggak boleh makan durian ya?" tanyaku spontan sambil melahap butir ke-sekian.
"Nggak tahu. Aku malah baru dengar itu," jawabnya ringan.
Aku terdiam saja sambil terus menghabiskan sisa durian.

Sesampainya aku di kamar kos, aku mengambil barang yang kubeli di drug store tadi.
Aku buka dan aku gunakan sesuai petunjuk.
Ada dua garis merah terang di sana.




Rasa durian terakhir. Terima kasih.

Mar 26, 2019

Sekeping Luasan.

Saat awal rencana membangun hunian, aku punya satu permintaan.
Terserah apapun rencananya, aku hanya ingin yang ini terwujud.

"Sisakan satu petak kecil di bagian belakang untuk menjadi terbuka.
Biarkan tanah menutupi pondasi betonnya.
Biarkan tanamanku kelak leluasa menghirup dan menghidu."

Maka terwujudlah, meskipun banyak tapi yang menjadi syarat.



Tidak banyak yang tahu, sesungguhnya
aku hanyalah menginginkan pandangku lepas ke sana,
pada sepetak langitku.

Jan 15, 2019

Jakarta Belum Berubah (part 1)

“Bu?”
“Iya, Nduk.”
“Bajaj sekarang berwarna biru dan tidak bising ya, Bu.”
“Iya, Ibu bisa mendengar suaramu dengan jelas sekarang.”



“Bu?”
“Iya, Nduk?”
“Aku tadi mendengar orang mengucapkan ‘permisi’”
“Lebih baik, bukan?”



“Bu?”
“Dalem, Nduk,”
“Aku suka trotoar di sini. Lebar dan bergaris kuning.”
“Syukurlah kita tidak perlu tersandung.”



“Bu?”
“Iya, Nduk,”
“Nenek benar sudah mati, bukan?”
“Iya, kita mengunjungi pusaranya sehari setelah dia pergi,”
“Aku takut Jakarta belum berubah sepenuhnya, Bu”




Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...