Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Jun 21, 2017

Pulang Padaku

Begitukah rasanya punya anak lelaki?
Aku jadi ingin memilikinya suatu hari nanti.

Jadi kelak aku bisa menyambutnya pulang padaku,
setidaknya sekali setahun.




Ninis dalam mood menyambutlebaranjauhdariibuuntukpertamakalinya.

May 11, 2017

Bulan dan Mama

Bulan malam ini cantik, sinarnya yang kuning membuat langit terlihat bersih.

Jadi teringat malam-malam di Sidoarjo. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan-sepuluh malam, Mama selalu keluar rumah hanya untuk sekedar menatap langit.
Sambil melamun.
Lalu mengamati sekitar, entah itu mencermati pos satpam di ujung jalan atau gemerisik rumput yang dicurigai memiliki pertemuan curut-curut di lahan kosong depan rumah.
Lalu aku mengintip dari balik gorden- tentu saja Mama menangkap gerakan di jendela, jadi Mama akan memberi isyarat agar aku ikut keluar rumah.

Dan di sanalah aku. Membuka pagar rumah dan merasakan udara malam.
Aku dan Mama masih sama-sama diam mendengar suara angin.
Lalu Mama mendongak. Lama.
Aku melirik ke atas.
Bulan dan bintang tersemat bersisian.

"Wah, bulannya terang, Ma,"
"Iya, kemarau begini. Langit lagi jernih-jernihnya," ucap Mama sambil menatap ke atas.
"Bintangnya jelas, Ma,"
"Dulu waktu awal pindah malah lebih banyak. Ingat?"
"Iya, terus banyak kunang-kunang di situ," Aku menunjuk semak di depan.
"Banyak kodok juga," Mama terkikik kecil sebelum melanjutkan, "Banyak ular juga,"
Aku teringat aku pernah berpapasan dengan ular dua-tiga kali di lingkungan rumah. Aku tersenyum masam.
"Sekarang sudah banyak perumahan," Mama menatap lampu di jalan utama depan sana, "Gitu lah,"

Lalu kami diam sambil masih mengawasi pesawat yang beberapa kali melintas, sampai badan sudah cukup segar untuk tidur.
Kegiatan semacam itu masih berulang di malam-malam lainnya. Dialognya pun sama. Kadang tanpa dialog sama sekali.


Malam-malam di tahun-tahun setelahnya, Mama jarang melihat langit lagi. Jadwal mengajar Mama semakin banyak, bahkan baru selesai jam sebelas malam. Sepulang dari kampus, Mama akan langsung lelap. Capek, katanya.

Aku pun semakin jarang keluar ruangan. Malam-malam selanjutnya aku semakin sering menghadap layar empat belas inci untuk menyelesaikan ini itu.



Bulan di Bandung malam ini cantik, Ma.
Hari ini langit cerah, tidak mendung seperti kemarin atau kemarinnya lagi.
Cantiknya.. mengingatkanku pada rutinitas malam-malam kita.




Ma, rindu..

Oct 31, 2011

Day 4 - Your Sibling

I have ever posted about this one.
just clik here and you'll find out.
I also looove her :)


Oct 1, 2011

Day 3 - Your Parents

I loooooove them.
Masing-masing keras kepala. Tapi saat aku salah dan salah seorang dari orangtuaku marah2, yg satunya pasti jadi malaikat :)



Uuuu kangen jadi pingin pulang :(

Jan 23, 2009

the Widyas

Aku adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Kakakku perempuan. Namanya Widya Sari Nastiti. Aku gk ngerti kenapa ortu kami ngasih nama depan yang sama. Untung aja aku punya nama panggilan sendiri, Ninis.

Yea, informasi yang penting sekali bukan? >:D

Mbak Didi usianya lebih tua dua tahun dari aku. Jarak umur yang deket itu bikin kami akrab dan gampang kalo mo maen kemana-mana. Bayangin aja kalo misalnya usia kami terpaut dua puluh tahun, bisa jadi aku dikira suka bergaul sama tante2.
Hoho.

Kami berdua sama-sama serampangan, kasar dan alim. Tapi aku lebih pendiam dan manis…(mhehe ^^V). kami saling menyayangi (alah) jadi suka kangen kalo salah satu dari kami terpisah.
Misalnya aja waktu aku harus menetap di Malang buat ngelanjutin studi dan mencapai cita-cita untuk memakmurkan bangsa Indonesia kelak. Asik..
Aku pikir aku bakal hepi tralala trilili disana, tanpa ada Mbak Didi yang hamper selalu ikut campur dalam masalah2ku. Gk ada lagi kakak yang super usil dan gk bisa tinggal diam menyaksikan diriku tanpa bekas2 penganiayaannya. Emang dia selalu bikin hidupku menderita…weks.
Sehari di Malang, aku sumringah dan ngerasain asiknya hidup mandiri tanpa keluarga. Seharian bawaanya pengen bilang ke setiap orang yang aku temuin, : “Woi, ni aku nih. Ninis si anak ajaib yang mampu bertahan hidup tanpa dikrecokin keluarga. Aku akan jajah Malang! Jajah Malang!”

Malemnya, aku telpon sambil nahan nangis termehek2. Kangen. Huhu.

Meski dia segitu jailnya sama aku, dia bisa juga bersikap omigod-so-sweet-bgd. Waktu itu, ehm, aku habis patah hati. Layaknya anak muda kala itu, aku kerjaannya nangis, cemberut, bad mood, pokoknya jahiliyah bgd dah. Nah, si Mbak Didi tuh emang gk menghibur aku secara langsung.
Tapi dia langsung ngelabrak si mantan itu. Mhehe. My Sist is Superman! Eh, Superwomen ding. Bee.
Aku gk tau tu si mantan diapain ma Mbak Didi, pokoknya sampe sekarang si mantan takut bgd kalo mo maen ke rumah. Takut ketemu Mbak Didi katanya. Muahaha.
I love my sist… ;D

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...