Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah tapi sebentar, kadang merasa bersalah tapi sebentar saja. Jadi sepertinya memang harus dicurahkan seperti ini sebagai prosesku menerima kepergian Papa.
Banyak hal yang masih ingin aku sampaikan buat Papa. Tentang hari-hariku di Malang, tentang Janu dan kebiasaan-kebiasaannya yang makin mirip Papa.
Tentu saja aku ingin tahu tentang perasaan Papa dua tahun terakhir ini, pasti tidak mudah buat Papa untuk adaptasi di fase hidup Papa baru. Tapi aku begitu egois, merasa penuh dengan kehidupanku sendiri, sehingga Papa ada di nomor sekian dalam prioritas-prioritas kehidupanku saat itu.
"Aku kangen Papa. Aku sayang Papa."
Andai aku punya banyak keberanian untuk bilang itu langsung ke Papa waktu Papa masih ada. Aku ingin Papa tahu itu, aku kepingin Papa tahu kalau aku masih butuh Papa.
Aku ingin Papa tahu kalau Papa sangat berarti buatku selama ini.
Aku juga ingin tahu, apa Papa bangga ke aku? Apa Papa betul-betul bahagia punya anak seperti aku? Rasanya belum banyak hal yang bisa aku beri buat Papa.
Bahkan terakhir kali kita bicara, kita habis bertengkar. Aku ingat tatapan Papa terakhir buatku: tatapan sedih dan bersalah. Seharusnya aku yang mengalah, dan aku begitu pengecut untuk mengakui itu.
Aku menyesal karena itu. Ada banyak tangisan yang susah keluar karena mengingatnya.
Hari terakhir aku melihat tubuh Papa, aku hanya berani memegang pipi Papa, menangis sambil berusaha agar suaraku terdengar jelas
di dekat telinga Papa.
Pipi Papa masih sedikit hangat dan aku harap permintaan maafku hari itu masih terdengar Papa.
"With you far away, I still think of you a hundred times a day"

No comments:
Post a Comment