Januari adalah bulan pertama dan banyak hal terjadi untuk pertama kalinya di bulan itu.
Salah satu hal yang membekas adalah saat pertama kali aku meninggalkan Janu di rumah (bersama ayahnya).
Bagi orang lain mungkin hal itu terdengar remeh, tapi tidak buatku. Saat itu usia Janu sudah 2 tahun lebih 2 bulan, sudah masanya ia sadar dan terbiasa bahwa selalu ada aku di sisinya.
Meskipun dia sedang kesal dan marah padaku, ujung-ujungnya dia selalu mencariku untuk sekedar peluk dan gendong. Jadilah aku ini semacam tempatnya kembali dari apapun yang sedang dia kerjakan.
Kemudian suatu hari di bulan Januari 2022, tiba-tiba team leader proyekku memutuskan bahwa tim harus bertemu untuk diskusi tatap muka di kampus. Diberi kemewahan dan kenyamanan berupa kesempatan bekerja secara daring, instruksi itu cukup membuat aku panik.
Tidak mungkin aku membawa Janu ke kampus karena pasti dia akan mondar-mandir penuh ingin tahu. Di sisi lain kalau aku sudah tidak enak hati untuk (sering) menolak permintaan TL-ku.
Jadi hari itu aku memutuskan untuk meninggalkan Janu di rumah. Kebetulan ayahnya sedang tidak masuk kantor karena sedang mengawasi renovasi rumah kami.
“Aku ke kampus naik gojek. Nanti jemput aku ya.” Itu spontan aku ucapkan. Tiba-tiba aku merasa aku harus memberikan tantangan juga untuk ayahnya Janu, karena selama ini Janu belum pernah pergi jauh berdua saja dengan ayahnya :P
Dan.. aku pergi begitu saja.
Sepanjang jalan aku terus mengirim pesan ke si ayah.
“Janu ngapain?”
“Dia nyariin aku nggak?”
“Nangis nggak?”
“Habis ini waktunya mandi.”
“Kalo ada bakso lewat beliin aja biar anteng.”
Dan dibalas singkat-singkat sama bapake 😅