Mar 28, 2018

Kelas Inspirasi (#2)

Hari itu saya bertemu banyak sekali orang baru dengan cipratan ekspresi yang bermacam-macam. Matahari sudah semakin tinggi, tanda kegiatan akan segera berakhir.
Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik baju saya dengan tergesa.
“Bu! Bu! Bu!” panggilnya.
“Ada apa?”
Dia menjawab dalam Bahasa Sunda dengan cepat, nadanya menuntut, maka saya pun mengikuti arah ia berjalan. Kami menghampiri seorang anak laki-laki di salah satu ruangan. Dia berdiri dengan wajah tertutup lengan, menangis.
“Lhooo kenapa?” saya jongkok bertanya sambil menepuk pelan pundaknya.
Kemudian tiba-tiba saya dikerumuni banyak anak kecil setinggi pinggang saya. Si anak perempuan tadi menjelaskan kronologinya, lagi-lagi dalam bahasa yang tidak saya mengerti.
Saya panik.
Di dekat saya sedang tidak ada relawan lain, sementara itu bocah-bocah yang semakin banyak jumlahnya ini terus menatap saya menuntut solusi. Wajah mereka cemas, secemas ekspresi Porgs yang ikut menumpang Millenium Falcon.

Saya sendirian.
Panik panik panik.

“Berantem ya? Nggak papa..nggak papa. Jangan nangis..mana temannya? Ayo baikan. Ayo senang-senang.” Itu kata-kata yang terus saya ulangi sambil berdoa semoga anak ini segera berhenti terisak.
Lalu seorang anak laki-laki lain menghampiri sambil menggerutu.
Lalu dua anak laki-laki ini saling berjabat tangan dan berpelukan, masih dengan ekspresi tangis dan cemberut.
Akhirnya mereka duduk berdua di sudut kelas, saling berbisik, meskipun masih dengan ekspresi yang sama...dan sesederhana itu mereka kembali berbaikan.
“Main bareng ya..kamu temenin mereka juga ya” kata saya pada si anak perempuan. Ia mengangguk dan tersenyum,
“Dadah Bu, dadaah..”

~
Seperti itu saja rasanya sudah sumringah seperti penjaga perdamaian antar galaksi! :D


foto oleh mas arbi dan nina. terima kasih :D

Mar 27, 2018

Kelas Insipirasi (#1)

Hari itu aku belum mengenal mereka. Senyum canggung dan ramah tamah ringan saya latih sebagai persiapan untuk bertemu mereka.
Dentum-dentum kecil di dada mengiringi keberangkatan Jumat pagi ke tempat yang dijanjikan.
Sampai kemudian dering kecil ponsel saya membuyarkan lamunan: ah, Bu Tina rupanya sudah sampai untuk mengangkut saya.
Lalu kemudian muncul Ayu dan seorang teman, menyapa kami dengan kecup pipi kanan kiri.
Lalu perjalanan dimulai, obrolan pun meluas.
Lalu kami sampai di Tasikmalaya.
Ada Teh Dini dan Rizki sudah lebih dahulu berkenalan.
Lalu muncul yang lainnya.
Satu..
Dua..
Dan ternyata mereka punya kesamaan: sama-sama sejenis orang hebat yang berhati hangat.


Hari itu ada mereka yang memberi inspirasi, dan ada saya yang diam-diam ikut menyerapnya :)
Hari itu ditutup dengan pelukan dalam, jabat tangan erat, lambaian tangan ringan,
seraya saling mengucap “hati-hati..sampai jumpa lagi!”
.....
Apa lagi yang paling meletupkan dada setelah hari itu?
:’)


This is how doing-photo-group-with-good-people looks like.. :)

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...