Saya ini orangnya mudah berburuk sangka. Jelek sih memang, tapi sisi positifnya, saya selalu punya plan cadangan bila hal terburuk terjadi. Saya juga bisa lebih menyiapkan perasaan untuk menghadapi efeknya, walaupun kadang destruktif (bisa bad mood dan uring-uringan selama beberapa hari) tapi saya toh akhirnya selalu bisa recovery juga.
Salah satu bentuk buruk sangka saya adalah, yang paling sederhana saja ya, bahwa mas-mas mekdi atau mbak-mbak minimarket menyapa saya dengan riang dan ramah hanya karena SOP. Hanya karena peraturan kerjaan mereka.
Karena...siapa lah aku ini sampe harus dibaik-baikin sama orang asing.
Gitu.
Tetapi karena buruk sangka itu juga, kadang saya jadi membatasi ekspektasi. Dan ketika buruk sangka saya itu ternyata salah dan justru terbukti sebaliknya, hasilnya akan....luar biasa hangat dan menyenangkan.
Jadi pada suatu malam pukul sebelas, saya baru saja pulang dari restoran cepat saji karena kepingin kentang goreng. Saat melewati jalan super gelap, saya melihat satu bayangan sedang jongkok di depan sana; seorang bapak-bapak. Otomatis saja memelankan sepeda motor saya, dan menganggukkan kepala padanya pelan, sambil berkata super pelan juga, "Punten pak..."
Bentuk buruk sangka saya saat itu: bapak ini tidak peduli, bapak ini tidak dengar suara saya, bapak ini tidak menangkap gerak sapa kepala saya, bahkan bapak ini cenderung membenci saya yang lewat karena buang-buang asap knalpot di depan dia yang sedang berposisi hampir sejajar jalan.
Tapi, sepersekian detik selanjutnya, bapak itu mendongak, tersenyum dan membalas,
"Sudah malam lho, hati-hati ya.."
...
:')
Saya baru sadar beberapa detik saat sudah cukup jauh, tapi saya sempatkan berteriak, "Makasih Pak!"
Sepanjang sisa perjalanan pulang, senyum ini mengembang terus.
Untuk malam sedingin itu pada pukul sebelas, dada ini terasa hangat.
By the way, selamat tahun baru, 25 menit lagi :)
Dec 31, 2017
Celetuk Fisik
Pukul 01.51 AM.
Setelah sekrol sosmed, melihat beberapa selfie,
Terus mikir kenapa ya mereka sering, dengan begitu berani, mengekspos muka-muka begitu, atau memang aku sendiri yang terlalu insecure, dan.....cukup.
Tutup sosmed.
Terus mikir tentang pembicaraan random kira-kira seminggu yang lalu.
Aku: *sigh* kenapa yaaa..
Teman: apaan?
Aku: itu lho, ada orang, kenapa ya bisa cantik banget. Padahal lihatnya dari jauh...dari jauh aja udah ketahuan cantik begitu.
Teman: Halah. Sama aja kan kayak kamu.
Aku: Halah.
Teman: Iya, sama cantiknya. Tapi kalo kamu cantiknya harus diamati dari jarak dekat.
Aku: *keplak*
Telek.
Setelah sekrol sosmed, melihat beberapa selfie,
Terus mikir kenapa ya mereka sering, dengan begitu berani, mengekspos muka-muka begitu, atau memang aku sendiri yang terlalu insecure, dan.....cukup.
Tutup sosmed.
Terus mikir tentang pembicaraan random kira-kira seminggu yang lalu.
Aku: *sigh* kenapa yaaa..
Teman: apaan?
Aku: itu lho, ada orang, kenapa ya bisa cantik banget. Padahal lihatnya dari jauh...dari jauh aja udah ketahuan cantik begitu.
Teman: Halah. Sama aja kan kayak kamu.
Aku: Halah.
Teman: Iya, sama cantiknya. Tapi kalo kamu cantiknya harus diamati dari jarak dekat.
Aku: *keplak*
Telek.
Oct 24, 2017
Cara Mengawetkanmu.
Salah satu caraku membekukan momen adalah melirik ke arah jam tanganku
dan mencatat angka yang tertera di sana.
Setelah aku selesai mendeskripsikanmu di dalam draft-draft tulisanku, tentu saja.
dan mencatat angka yang tertera di sana.
Setelah aku selesai mendeskripsikanmu di dalam draft-draft tulisanku, tentu saja.
Oct 11, 2017
Kata Dia
"Kadar toleransimu untuk orang lain terlalu tinggi," He once told me, out of the blue.
"Kadang, terlalu sering jadi baik itu nggak baik,"
Lalu dengan santai, ia melanjutkan menghirup kopinya, meninggalkanku bertanya-tanya: apa lagi yang salah.
"Kadang, terlalu sering jadi baik itu nggak baik,"
Lalu dengan santai, ia melanjutkan menghirup kopinya, meninggalkanku bertanya-tanya: apa lagi yang salah.
Jun 21, 2017
Pulang Padaku
Begitukah rasanya punya anak lelaki?
Aku jadi ingin memilikinya suatu hari nanti.
Jadi kelak aku bisa menyambutnya pulang padaku,
setidaknya sekali setahun.
Ninis dalam mood menyambutlebaranjauhdariibuuntukpertamakalinya.
May 12, 2017
May 11, 2017
Bulan dan Mama
Bulan malam ini cantik, sinarnya yang kuning membuat langit terlihat bersih.
Jadi teringat malam-malam di Sidoarjo. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan-sepuluh malam, Mama selalu keluar rumah hanya untuk sekedar menatap langit.
Sambil melamun.
Lalu mengamati sekitar, entah itu mencermati pos satpam di ujung jalan atau gemerisik rumput yang dicurigai memiliki pertemuan curut-curut di lahan kosong depan rumah.
Lalu aku mengintip dari balik gorden- tentu saja Mama menangkap gerakan di jendela, jadi Mama akan memberi isyarat agar aku ikut keluar rumah.
Dan di sanalah aku. Membuka pagar rumah dan merasakan udara malam.
Aku dan Mama masih sama-sama diam mendengar suara angin.
Lalu Mama mendongak. Lama.
Aku melirik ke atas.
Bulan dan bintang tersemat bersisian.
"Wah, bulannya terang, Ma,"
"Iya, kemarau begini. Langit lagi jernih-jernihnya," ucap Mama sambil menatap ke atas.
"Bintangnya jelas, Ma,"
"Dulu waktu awal pindah malah lebih banyak. Ingat?"
"Iya, terus banyak kunang-kunang di situ," Aku menunjuk semak di depan.
"Banyak kodok juga," Mama terkikik kecil sebelum melanjutkan, "Banyak ular juga,"
Aku teringat aku pernah berpapasan dengan ular dua-tiga kali di lingkungan rumah. Aku tersenyum masam.
"Sekarang sudah banyak perumahan," Mama menatap lampu di jalan utama depan sana, "Gitu lah,"
Lalu kami diam sambil masih mengawasi pesawat yang beberapa kali melintas, sampai badan sudah cukup segar untuk tidur.
Kegiatan semacam itu masih berulang di malam-malam lainnya. Dialognya pun sama. Kadang tanpa dialog sama sekali.
Malam-malam di tahun-tahun setelahnya, Mama jarang melihat langit lagi. Jadwal mengajar Mama semakin banyak, bahkan baru selesai jam sebelas malam. Sepulang dari kampus, Mama akan langsung lelap. Capek, katanya.
Aku pun semakin jarang keluar ruangan. Malam-malam selanjutnya aku semakin sering menghadap layar empat belas inci untuk menyelesaikan ini itu.
Bulan di Bandung malam ini cantik, Ma.
Hari ini langit cerah, tidak mendung seperti kemarin atau kemarinnya lagi.
Cantiknya.. mengingatkanku pada rutinitas malam-malam kita.
Ma, rindu..
Jadi teringat malam-malam di Sidoarjo. Ketika waktu menunjukkan pukul sembilan-sepuluh malam, Mama selalu keluar rumah hanya untuk sekedar menatap langit.
Sambil melamun.
Lalu mengamati sekitar, entah itu mencermati pos satpam di ujung jalan atau gemerisik rumput yang dicurigai memiliki pertemuan curut-curut di lahan kosong depan rumah.
Lalu aku mengintip dari balik gorden- tentu saja Mama menangkap gerakan di jendela, jadi Mama akan memberi isyarat agar aku ikut keluar rumah.
Dan di sanalah aku. Membuka pagar rumah dan merasakan udara malam.
Aku dan Mama masih sama-sama diam mendengar suara angin.
Lalu Mama mendongak. Lama.
Aku melirik ke atas.
Bulan dan bintang tersemat bersisian.
"Wah, bulannya terang, Ma,"
"Iya, kemarau begini. Langit lagi jernih-jernihnya," ucap Mama sambil menatap ke atas.
"Bintangnya jelas, Ma,"
"Dulu waktu awal pindah malah lebih banyak. Ingat?"
"Iya, terus banyak kunang-kunang di situ," Aku menunjuk semak di depan.
"Banyak kodok juga," Mama terkikik kecil sebelum melanjutkan, "Banyak ular juga,"
Aku teringat aku pernah berpapasan dengan ular dua-tiga kali di lingkungan rumah. Aku tersenyum masam.
"Sekarang sudah banyak perumahan," Mama menatap lampu di jalan utama depan sana, "Gitu lah,"
Lalu kami diam sambil masih mengawasi pesawat yang beberapa kali melintas, sampai badan sudah cukup segar untuk tidur.
Kegiatan semacam itu masih berulang di malam-malam lainnya. Dialognya pun sama. Kadang tanpa dialog sama sekali.
Malam-malam di tahun-tahun setelahnya, Mama jarang melihat langit lagi. Jadwal mengajar Mama semakin banyak, bahkan baru selesai jam sebelas malam. Sepulang dari kampus, Mama akan langsung lelap. Capek, katanya.
Aku pun semakin jarang keluar ruangan. Malam-malam selanjutnya aku semakin sering menghadap layar empat belas inci untuk menyelesaikan ini itu.
Bulan di Bandung malam ini cantik, Ma.
Hari ini langit cerah, tidak mendung seperti kemarin atau kemarinnya lagi.
Cantiknya.. mengingatkanku pada rutinitas malam-malam kita.
Ma, rindu..
Subscribe to:
Posts (Atom)
Pa..
Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...
-
Halo Bulan Sepuluh..tesisku belum selesai juga :p Hari ini sedang duduk di sebuah tempat minum kopi, untuk menyelesaikan ini itu sedikit l...
-
Agak menyesal kenapa harus segampang itu menceritakan hal ketakutan masa lalu kepada orang. Kamu minta apa? Minta perhatian? Minta dikasih...
-
refleksi hari ini: ketika kamu berpikir kamu sudah berbuat benar dengan melimpahkan sebagian beban pikiran, itu ternyata salah. salah be...