Ia menjadikan ayah dan istrinya sebagai standar dalam berbuat sesuatu.
Ia lelaki hitam putih,
seperti ayahnya.
Namun ia bersedia melakukan apa-apa yang memang seharusnya dilakukan,
seperti istrinya
yang berwarna-warni.
May 3, 2018
Apr 23, 2018
Memories of..
....You
he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for
has the right taste for music as I like them all to be
postured together like the cool breeze in the morning
just as good as playing with my band back home then
each time I'm seeing him.. it's grand
keep it coming, keep it steady, keep it slow
like the artist on the sidewalk painting faces
got to make something to remember him by
'cause his smile is like a calming river
as beautiful as a song, yes it is
and I'm telling you in case you didn't know
I'm a lonely writer
I live in box of words
I took memories of you
and make it into my song
he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for
by. Mian Tiara
he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for
has the right taste for music as I like them all to be
postured together like the cool breeze in the morning
just as good as playing with my band back home then
each time I'm seeing him.. it's grand
keep it coming, keep it steady, keep it slow
like the artist on the sidewalk painting faces
got to make something to remember him by
'cause his smile is like a calming river
as beautiful as a song, yes it is
and I'm telling you in case you didn't know
I'm a lonely writer
I live in box of words
I took memories of you
and make it into my song
he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for
by. Mian Tiara
Mar 28, 2018
Kelas Inspirasi (#2)
Hari itu saya bertemu banyak sekali orang baru dengan cipratan ekspresi yang bermacam-macam. Matahari sudah semakin tinggi, tanda kegiatan akan segera berakhir.
Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik baju saya dengan tergesa.
“Bu! Bu! Bu!” panggilnya.
“Ada apa?”
Dia menjawab dalam Bahasa Sunda dengan cepat, nadanya menuntut, maka saya pun mengikuti arah ia berjalan. Kami menghampiri seorang anak laki-laki di salah satu ruangan. Dia berdiri dengan wajah tertutup lengan, menangis.
“Lhooo kenapa?” saya jongkok bertanya sambil menepuk pelan pundaknya.
Kemudian tiba-tiba saya dikerumuni banyak anak kecil setinggi pinggang saya. Si anak perempuan tadi menjelaskan kronologinya, lagi-lagi dalam bahasa yang tidak saya mengerti.
Saya panik.
Di dekat saya sedang tidak ada relawan lain, sementara itu bocah-bocah yang semakin banyak jumlahnya ini terus menatap saya menuntut solusi. Wajah mereka cemas, secemas ekspresi Porgs yang ikut menumpang Millenium Falcon.
Saya sendirian.
Panik panik panik.
“Berantem ya? Nggak papa..nggak papa. Jangan nangis..mana temannya? Ayo baikan. Ayo senang-senang.” Itu kata-kata yang terus saya ulangi sambil berdoa semoga anak ini segera berhenti terisak.
Lalu seorang anak laki-laki lain menghampiri sambil menggerutu.
Lalu dua anak laki-laki ini saling berjabat tangan dan berpelukan, masih dengan ekspresi tangis dan cemberut.
Akhirnya mereka duduk berdua di sudut kelas, saling berbisik, meskipun masih dengan ekspresi yang sama...dan sesederhana itu mereka kembali berbaikan.
“Main bareng ya..kamu temenin mereka juga ya” kata saya pada si anak perempuan. Ia mengangguk dan tersenyum,
“Dadah Bu, dadaah..”
~
Seperti itu saja rasanya sudah sumringah seperti penjaga perdamaian antar galaksi! :D
foto oleh mas arbi dan nina. terima kasih :D
Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik baju saya dengan tergesa.
“Bu! Bu! Bu!” panggilnya.
“Ada apa?”
Dia menjawab dalam Bahasa Sunda dengan cepat, nadanya menuntut, maka saya pun mengikuti arah ia berjalan. Kami menghampiri seorang anak laki-laki di salah satu ruangan. Dia berdiri dengan wajah tertutup lengan, menangis.
“Lhooo kenapa?” saya jongkok bertanya sambil menepuk pelan pundaknya.
Kemudian tiba-tiba saya dikerumuni banyak anak kecil setinggi pinggang saya. Si anak perempuan tadi menjelaskan kronologinya, lagi-lagi dalam bahasa yang tidak saya mengerti.
Saya panik.
Di dekat saya sedang tidak ada relawan lain, sementara itu bocah-bocah yang semakin banyak jumlahnya ini terus menatap saya menuntut solusi. Wajah mereka cemas, secemas ekspresi Porgs yang ikut menumpang Millenium Falcon.
Saya sendirian.
Panik panik panik.
“Berantem ya? Nggak papa..nggak papa. Jangan nangis..mana temannya? Ayo baikan. Ayo senang-senang.” Itu kata-kata yang terus saya ulangi sambil berdoa semoga anak ini segera berhenti terisak.
Lalu seorang anak laki-laki lain menghampiri sambil menggerutu.
Lalu dua anak laki-laki ini saling berjabat tangan dan berpelukan, masih dengan ekspresi tangis dan cemberut.
Akhirnya mereka duduk berdua di sudut kelas, saling berbisik, meskipun masih dengan ekspresi yang sama...dan sesederhana itu mereka kembali berbaikan.
“Main bareng ya..kamu temenin mereka juga ya” kata saya pada si anak perempuan. Ia mengangguk dan tersenyum,
“Dadah Bu, dadaah..”
~
Seperti itu saja rasanya sudah sumringah seperti penjaga perdamaian antar galaksi! :D
Mar 27, 2018
Kelas Insipirasi (#1)
Hari itu aku belum mengenal mereka. Senyum canggung dan ramah tamah ringan saya latih sebagai persiapan untuk bertemu mereka.
Dentum-dentum kecil di dada mengiringi keberangkatan Jumat pagi ke tempat yang dijanjikan.
Sampai kemudian dering kecil ponsel saya membuyarkan lamunan: ah, Bu Tina rupanya sudah sampai untuk mengangkut saya.
Lalu kemudian muncul Ayu dan seorang teman, menyapa kami dengan kecup pipi kanan kiri.
Lalu perjalanan dimulai, obrolan pun meluas.
Lalu kami sampai di Tasikmalaya.
Ada Teh Dini dan Rizki sudah lebih dahulu berkenalan.
Lalu muncul yang lainnya.
Satu..
Dua..
Dan ternyata mereka punya kesamaan: sama-sama sejenis orang hebat yang berhati hangat.
Hari itu ada mereka yang memberi inspirasi, dan ada saya yang diam-diam ikut menyerapnya :)
Hari itu ditutup dengan pelukan dalam, jabat tangan erat, lambaian tangan ringan,
seraya saling mengucap “hati-hati..sampai jumpa lagi!”
.....
Apa lagi yang paling meletupkan dada setelah hari itu?
:’)
This is how doing-photo-group-with-good-people looks like.. :)
Dentum-dentum kecil di dada mengiringi keberangkatan Jumat pagi ke tempat yang dijanjikan.
Sampai kemudian dering kecil ponsel saya membuyarkan lamunan: ah, Bu Tina rupanya sudah sampai untuk mengangkut saya.
Lalu kemudian muncul Ayu dan seorang teman, menyapa kami dengan kecup pipi kanan kiri.
Lalu perjalanan dimulai, obrolan pun meluas.
Lalu kami sampai di Tasikmalaya.
Ada Teh Dini dan Rizki sudah lebih dahulu berkenalan.
Lalu muncul yang lainnya.
Satu..
Dua..
Dan ternyata mereka punya kesamaan: sama-sama sejenis orang hebat yang berhati hangat.
Hari itu ada mereka yang memberi inspirasi, dan ada saya yang diam-diam ikut menyerapnya :)
Hari itu ditutup dengan pelukan dalam, jabat tangan erat, lambaian tangan ringan,
seraya saling mengucap “hati-hati..sampai jumpa lagi!”
.....
Apa lagi yang paling meletupkan dada setelah hari itu?
:’)
Dec 31, 2017
Tentang Buruk Sangka
Saya ini orangnya mudah berburuk sangka. Jelek sih memang, tapi sisi positifnya, saya selalu punya plan cadangan bila hal terburuk terjadi. Saya juga bisa lebih menyiapkan perasaan untuk menghadapi efeknya, walaupun kadang destruktif (bisa bad mood dan uring-uringan selama beberapa hari) tapi saya toh akhirnya selalu bisa recovery juga.
Salah satu bentuk buruk sangka saya adalah, yang paling sederhana saja ya, bahwa mas-mas mekdi atau mbak-mbak minimarket menyapa saya dengan riang dan ramah hanya karena SOP. Hanya karena peraturan kerjaan mereka.
Karena...siapa lah aku ini sampe harus dibaik-baikin sama orang asing.
Gitu.
Tetapi karena buruk sangka itu juga, kadang saya jadi membatasi ekspektasi. Dan ketika buruk sangka saya itu ternyata salah dan justru terbukti sebaliknya, hasilnya akan....luar biasa hangat dan menyenangkan.
Jadi pada suatu malam pukul sebelas, saya baru saja pulang dari restoran cepat saji karena kepingin kentang goreng. Saat melewati jalan super gelap, saya melihat satu bayangan sedang jongkok di depan sana; seorang bapak-bapak. Otomatis saja memelankan sepeda motor saya, dan menganggukkan kepala padanya pelan, sambil berkata super pelan juga, "Punten pak..."
Bentuk buruk sangka saya saat itu: bapak ini tidak peduli, bapak ini tidak dengar suara saya, bapak ini tidak menangkap gerak sapa kepala saya, bahkan bapak ini cenderung membenci saya yang lewat karena buang-buang asap knalpot di depan dia yang sedang berposisi hampir sejajar jalan.
Tapi, sepersekian detik selanjutnya, bapak itu mendongak, tersenyum dan membalas,
"Sudah malam lho, hati-hati ya.."
...
:')
Saya baru sadar beberapa detik saat sudah cukup jauh, tapi saya sempatkan berteriak, "Makasih Pak!"
Sepanjang sisa perjalanan pulang, senyum ini mengembang terus.
Untuk malam sedingin itu pada pukul sebelas, dada ini terasa hangat.
By the way, selamat tahun baru, 25 menit lagi :)
Salah satu bentuk buruk sangka saya adalah, yang paling sederhana saja ya, bahwa mas-mas mekdi atau mbak-mbak minimarket menyapa saya dengan riang dan ramah hanya karena SOP. Hanya karena peraturan kerjaan mereka.
Karena...siapa lah aku ini sampe harus dibaik-baikin sama orang asing.
Gitu.
Tetapi karena buruk sangka itu juga, kadang saya jadi membatasi ekspektasi. Dan ketika buruk sangka saya itu ternyata salah dan justru terbukti sebaliknya, hasilnya akan....luar biasa hangat dan menyenangkan.
Jadi pada suatu malam pukul sebelas, saya baru saja pulang dari restoran cepat saji karena kepingin kentang goreng. Saat melewati jalan super gelap, saya melihat satu bayangan sedang jongkok di depan sana; seorang bapak-bapak. Otomatis saja memelankan sepeda motor saya, dan menganggukkan kepala padanya pelan, sambil berkata super pelan juga, "Punten pak..."
Bentuk buruk sangka saya saat itu: bapak ini tidak peduli, bapak ini tidak dengar suara saya, bapak ini tidak menangkap gerak sapa kepala saya, bahkan bapak ini cenderung membenci saya yang lewat karena buang-buang asap knalpot di depan dia yang sedang berposisi hampir sejajar jalan.
Tapi, sepersekian detik selanjutnya, bapak itu mendongak, tersenyum dan membalas,
"Sudah malam lho, hati-hati ya.."
...
:')
Saya baru sadar beberapa detik saat sudah cukup jauh, tapi saya sempatkan berteriak, "Makasih Pak!"
Sepanjang sisa perjalanan pulang, senyum ini mengembang terus.
Untuk malam sedingin itu pada pukul sebelas, dada ini terasa hangat.
By the way, selamat tahun baru, 25 menit lagi :)
Celetuk Fisik
Pukul 01.51 AM.
Setelah sekrol sosmed, melihat beberapa selfie,
Terus mikir kenapa ya mereka sering, dengan begitu berani, mengekspos muka-muka begitu, atau memang aku sendiri yang terlalu insecure, dan.....cukup.
Tutup sosmed.
Terus mikir tentang pembicaraan random kira-kira seminggu yang lalu.
Aku: *sigh* kenapa yaaa..
Teman: apaan?
Aku: itu lho, ada orang, kenapa ya bisa cantik banget. Padahal lihatnya dari jauh...dari jauh aja udah ketahuan cantik begitu.
Teman: Halah. Sama aja kan kayak kamu.
Aku: Halah.
Teman: Iya, sama cantiknya. Tapi kalo kamu cantiknya harus diamati dari jarak dekat.
Aku: *keplak*
Telek.
Setelah sekrol sosmed, melihat beberapa selfie,
Terus mikir kenapa ya mereka sering, dengan begitu berani, mengekspos muka-muka begitu, atau memang aku sendiri yang terlalu insecure, dan.....cukup.
Tutup sosmed.
Terus mikir tentang pembicaraan random kira-kira seminggu yang lalu.
Aku: *sigh* kenapa yaaa..
Teman: apaan?
Aku: itu lho, ada orang, kenapa ya bisa cantik banget. Padahal lihatnya dari jauh...dari jauh aja udah ketahuan cantik begitu.
Teman: Halah. Sama aja kan kayak kamu.
Aku: Halah.
Teman: Iya, sama cantiknya. Tapi kalo kamu cantiknya harus diamati dari jarak dekat.
Aku: *keplak*
Telek.
Oct 24, 2017
Cara Mengawetkanmu.
Salah satu caraku membekukan momen adalah melirik ke arah jam tanganku
dan mencatat angka yang tertera di sana.
Setelah aku selesai mendeskripsikanmu di dalam draft-draft tulisanku, tentu saja.
dan mencatat angka yang tertera di sana.
Setelah aku selesai mendeskripsikanmu di dalam draft-draft tulisanku, tentu saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Pa..
Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...
-
Halo Bulan Sepuluh..tesisku belum selesai juga :p Hari ini sedang duduk di sebuah tempat minum kopi, untuk menyelesaikan ini itu sedikit l...
-
Agak menyesal kenapa harus segampang itu menceritakan hal ketakutan masa lalu kepada orang. Kamu minta apa? Minta perhatian? Minta dikasih...
-
refleksi hari ini: ketika kamu berpikir kamu sudah berbuat benar dengan melimpahkan sebagian beban pikiran, itu ternyata salah. salah be...

