May 20, 2018

A post shared by Connie Sun (@cartoonconnie) on




dan teman berbagi yang paling baik adalah diri sendiri.
jadi, selamat menulis! :)

May 5, 2018

deja vu 2013

Menulis ini saat malam hari Sabtu,

Oke, aku akan mengeluh lagi.

Seorang teman di grup tiba-tiba bertanya kabar dan obrolan di grup kembali hidup.
Yah, sudah di akhir semester akhir, maka obrolannya pun seputar tesis dan tanggal kelulusan.

:')

Rasanya sedih waktu ngintip notifikasi. Sudah ada rencana A, rencana X, sementara aku sama sekali tidak ekspektasi apa-apa.
karena

Aku takut berpisah.
Aku takut semua kenyamanan ini berakhir.
Kesempatan untuk memperdalam ilmu, berada di kampus yang atmosfirnya menyenangkan, bertemu orang-orang baru dan pemikiran baru..
Lalu
tiba-tiba suatu hari suatu hari kamu berhadapan dengan kardus-kardusmu yang sudah tersusun rapi, membawanya ke jasa pengiriman, bersama dirimu, pergi meninggalkan kota ini.


deja vu 5 tahun lalu, sesaat aku lulus sarjana.

May 3, 2018

tentang lelaki bernama ove

Ia menjadikan ayah dan istrinya sebagai standar dalam berbuat sesuatu.

Ia lelaki hitam putih,
seperti ayahnya.
Namun ia bersedia melakukan apa-apa yang memang seharusnya dilakukan,
seperti istrinya
yang berwarna-warni.

Apr 23, 2018

Memories of..

....You

he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for
has the right taste for music as I like them all to be

postured together like the cool breeze in the morning
just as good as playing with my band back home then
each time I'm seeing him.. it's grand

keep it coming, keep it steady, keep it slow
like the artist on the sidewalk painting faces
got to make something to remember him by

'cause his smile is like a calming river
as beautiful as a song, yes it is
and I'm telling you in case you didn't know

I'm a lonely writer
I live in box of words
I took memories of you
and make it into my song

he's young, lovely, and promising and bright
just a kind of guy that I could fall for


by. Mian Tiara

Mar 28, 2018

Kelas Inspirasi (#2)

Hari itu saya bertemu banyak sekali orang baru dengan cipratan ekspresi yang bermacam-macam. Matahari sudah semakin tinggi, tanda kegiatan akan segera berakhir.
Tiba-tiba seorang anak perempuan menarik baju saya dengan tergesa.
“Bu! Bu! Bu!” panggilnya.
“Ada apa?”
Dia menjawab dalam Bahasa Sunda dengan cepat, nadanya menuntut, maka saya pun mengikuti arah ia berjalan. Kami menghampiri seorang anak laki-laki di salah satu ruangan. Dia berdiri dengan wajah tertutup lengan, menangis.
“Lhooo kenapa?” saya jongkok bertanya sambil menepuk pelan pundaknya.
Kemudian tiba-tiba saya dikerumuni banyak anak kecil setinggi pinggang saya. Si anak perempuan tadi menjelaskan kronologinya, lagi-lagi dalam bahasa yang tidak saya mengerti.
Saya panik.
Di dekat saya sedang tidak ada relawan lain, sementara itu bocah-bocah yang semakin banyak jumlahnya ini terus menatap saya menuntut solusi. Wajah mereka cemas, secemas ekspresi Porgs yang ikut menumpang Millenium Falcon.

Saya sendirian.
Panik panik panik.

“Berantem ya? Nggak papa..nggak papa. Jangan nangis..mana temannya? Ayo baikan. Ayo senang-senang.” Itu kata-kata yang terus saya ulangi sambil berdoa semoga anak ini segera berhenti terisak.
Lalu seorang anak laki-laki lain menghampiri sambil menggerutu.
Lalu dua anak laki-laki ini saling berjabat tangan dan berpelukan, masih dengan ekspresi tangis dan cemberut.
Akhirnya mereka duduk berdua di sudut kelas, saling berbisik, meskipun masih dengan ekspresi yang sama...dan sesederhana itu mereka kembali berbaikan.
“Main bareng ya..kamu temenin mereka juga ya” kata saya pada si anak perempuan. Ia mengangguk dan tersenyum,
“Dadah Bu, dadaah..”

~
Seperti itu saja rasanya sudah sumringah seperti penjaga perdamaian antar galaksi! :D


foto oleh mas arbi dan nina. terima kasih :D

Mar 27, 2018

Kelas Insipirasi (#1)

Hari itu aku belum mengenal mereka. Senyum canggung dan ramah tamah ringan saya latih sebagai persiapan untuk bertemu mereka.
Dentum-dentum kecil di dada mengiringi keberangkatan Jumat pagi ke tempat yang dijanjikan.
Sampai kemudian dering kecil ponsel saya membuyarkan lamunan: ah, Bu Tina rupanya sudah sampai untuk mengangkut saya.
Lalu kemudian muncul Ayu dan seorang teman, menyapa kami dengan kecup pipi kanan kiri.
Lalu perjalanan dimulai, obrolan pun meluas.
Lalu kami sampai di Tasikmalaya.
Ada Teh Dini dan Rizki sudah lebih dahulu berkenalan.
Lalu muncul yang lainnya.
Satu..
Dua..
Dan ternyata mereka punya kesamaan: sama-sama sejenis orang hebat yang berhati hangat.


Hari itu ada mereka yang memberi inspirasi, dan ada saya yang diam-diam ikut menyerapnya :)
Hari itu ditutup dengan pelukan dalam, jabat tangan erat, lambaian tangan ringan,
seraya saling mengucap “hati-hati..sampai jumpa lagi!”
.....
Apa lagi yang paling meletupkan dada setelah hari itu?
:’)


This is how doing-photo-group-with-good-people looks like.. :)

Dec 31, 2017

Tentang Buruk Sangka

Saya ini orangnya mudah berburuk sangka. Jelek sih memang, tapi sisi positifnya, saya selalu punya plan cadangan bila hal terburuk terjadi. Saya juga bisa lebih menyiapkan perasaan untuk menghadapi efeknya, walaupun kadang destruktif (bisa bad mood dan uring-uringan selama beberapa hari) tapi saya toh akhirnya selalu bisa recovery juga.

Salah satu bentuk buruk sangka saya adalah, yang paling sederhana saja ya, bahwa mas-mas mekdi atau mbak-mbak minimarket menyapa saya dengan riang dan ramah hanya karena SOP. Hanya karena peraturan kerjaan mereka.
Karena...siapa lah aku ini sampe harus dibaik-baikin sama orang asing.
Gitu.
Tetapi karena buruk sangka itu juga, kadang saya jadi membatasi ekspektasi. Dan ketika buruk sangka saya itu ternyata salah dan justru terbukti sebaliknya, hasilnya akan....luar biasa hangat dan menyenangkan.

Jadi pada suatu malam pukul sebelas, saya baru saja pulang dari restoran cepat saji karena kepingin kentang goreng. Saat melewati jalan super gelap, saya melihat satu bayangan sedang jongkok di depan sana; seorang bapak-bapak. Otomatis saja memelankan sepeda motor saya, dan menganggukkan kepala padanya pelan, sambil berkata super pelan juga, "Punten pak..."
Bentuk buruk sangka saya saat itu: bapak ini tidak peduli, bapak ini tidak dengar suara saya, bapak ini tidak menangkap gerak sapa kepala saya, bahkan bapak ini cenderung membenci saya yang lewat karena buang-buang asap knalpot di depan dia yang sedang berposisi hampir sejajar jalan.


Tapi, sepersekian detik selanjutnya, bapak itu mendongak, tersenyum dan membalas,
"Sudah malam lho, hati-hati ya.."

...

:')


Saya baru sadar beberapa detik saat sudah cukup jauh, tapi saya sempatkan berteriak, "Makasih Pak!"

Sepanjang sisa perjalanan pulang, senyum ini mengembang terus.
Untuk malam sedingin itu pada pukul sebelas, dada ini terasa hangat.


By the way, selamat tahun baru, 25 menit lagi :)

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...