Padahal kami sudah sangat suka sekali membaca.
Huhu.
Kabar baiknya, keluarga kami saat itu masih bertahan berlangganan koran setiap hari. Dan kabar lebih baiknya lagi, ibu mengijinkan kami berlangganan majalah anak-anak mingguan.
Kami, dua anak perempuan yang haus bacaan, setiap pagi mengawasi pagar rumah dari balik jendela rumah sambil mengunyah sarapan. Ketika dering bel sepeda berbunyi dan setelahnya ada suara ceplos kertas tebal menyentuh lantai teras, kami segera berlomba mengambil koran pagi itu. Masing-masing dari kami harus mendapatkannya lebih dulu atau harus bersabar menunggu sampai pulang sekolah baru bisa membacanya karena beberapa menit setelah itu kami sudah harus berangkat ke sekolah. Kami saling berebut membaca satu dari tiga bagian koran. Bagian utama jelas diminta ibu, bagian olahraga diminta ayah, sementara sisanya adalah bagian perebutan kami.
Persaingan membaca itu semakin seru ketika hari Kamis tiba, hari dimana majalah mingguan kami diantarkan.
Ada cerita memalukan pada satu Kamis, dimana saat itukakakku sedang lengah, jadi ketika si pengantar majalah datang, aku cepat-cepat berlari ke depan rumah. Aku lupa bawa malam sebelumnya hujan turun dan membasahi lantai teras. Segera saja... JEDAAAGG!
Aku terpeleset, terpelanting dengan kepala menghantam lantai T_T
Sementara badanku bergelung di lantai sambil sibuk mengaduh, kakakku lewat mencemooh dan dengan santainya mengambil majalah itu. Ia membacanya lebih dulu minggu itu.
Kesal.
Buku pertama yang aku punyai lagi sejak ibu melarang membeli selain untuk keperluan sekolah adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban (Book 3). Hari itu dengan penuh suka cita kutunjukkan uang hasil tabunganku dan aku utarakan bahwa aku ingin menghabiskannya untuk sebuah buku. Harry Potter adalah kegandrunganku saat itu. Ibuku mengeluh tapi akhirnya kami berangkat juga ke toko buku.
Sesampainya di sana, kudapati bahwa tabunganku tidak cukup. Sedikit merengek, kupinta ibu untuk meminjamkan uang padaku untuk kemudian kuganti dengan potongan uang saku. Ibu mengeluh lagi, tapi toh ia memberiku tambahan uang tanpa perlu ganti :’)
Sampai SMA, aku masih belum diberi akses untuk membeli buku selain untuk keperluan sekolah. Bila luang atau bosan di kelas, aku pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca. Di sana aku bebas membaca meskipun harus mengarang alasan macam-macam pada penjaga bila aku datang saat jam pelajaran berlangsung.
Meski sering ke perpustakaan, ingatan akan buku yang kubaca agak samar. Aku pernah membaca Frankenstein, serial Goosebumps, serial Lima Sekawan, buku-buku Marah Roesli dan Abdul Muis, buku-buku Mira W, Fira Basuki, beberapa teenlit populer (siapa yang tidak pernah baca Dealova? Haha), koleksi ensiklopedia bergambar dan tentu saja Harry Potter...tapi ya begitu saja, aku tidak ingat detail isinya.
Sampai pada saat kuliah, terutama saat semester terakhir, aku mulai bisa menyisihkan uang sendiri. Lalu aku mulai membeli buku-buku sendiri, terus..terus..sampai aku mendapatkan uang sendiri dari hasil bekerja, aku mulai semakin menghabiskan uangku untuk buku. Aku mulai membeli buku-buku yang tidak terbeli saat aku masih kecil. Pembalasan dendamku..haha :p
Aku belum membuat anggaran khusus untuk buku, kesalahanku. Mungkin karena itulah aku sering merasa boros.
Tapi, toh, aku gampang memaafkan diriku sendiri soal itu :D
Satu kebiasaanku terkait buku adalah menghirup dalam-dalam kertasnya. Tiap buku, meskipun berada di naungan penerbit yang sama, memiliki aroma yang berbeda. Aku paling tidak suka aroma kertas tipis yang menyengat, tipikal kertas buram mesin fotokopi. Bila aku menemui buku dengan aroma seperti itu, sebaik apapun isinya, aku akan enggan menyentuhnya lagi atau malah tidak selesai kubaca sama sekali.
Aku pikir aku tidak akan segila tokoh-tokoh di buku Rumah Kertas yang ditulis Carlos María Domínguez.
Dalam buku itu dijabarkan jenis-jenis mereka ini, mulai dari pengumpul koleksi langka, petarung di area lelang, penimbun delapan belas ribu buku yang memiliki lantai khusus agar tidak tercemar hal keseharian, penyortir buku berdasarkan hubungan emosional penulisnya dan macam-macam.
Tidak, aku bukan salah satu dari jenis di atas.
Atau mungkin malah belum? :p
Tapi kemudian aku mencapai satu halaman yang bertulis
...
Ada juga, toh, yang berpikiran seperti itu T___T
Aku pikir saat aku melihat susunan kalimat dalam satu halaman, lalu mulai menelusuri celah-celah antar huruf dan katanya, aku sedang berlebihan dalam mengamati saja.
:')
No comments:
Post a Comment