Saat awal rencana membangun hunian, aku punya satu permintaan.
Terserah apapun rencananya, aku hanya ingin yang ini terwujud.
"Sisakan satu petak kecil di bagian belakang untuk menjadi terbuka.
Biarkan tanah menutupi pondasi betonnya.
Biarkan tanamanku kelak leluasa menghirup dan menghidu."
Maka terwujudlah, meskipun banyak tapi yang menjadi syarat.
Tidak banyak yang tahu, sesungguhnya
aku hanyalah menginginkan pandangku lepas ke sana,
pada sepetak langitku.
Mar 26, 2019
Jan 15, 2019
Jakarta Belum Berubah (part 1)
“Bu?”
“Iya, Nduk.”
“Bajaj sekarang berwarna biru dan tidak bising ya, Bu.”
“Iya, Ibu bisa mendengar suaramu dengan jelas sekarang.”
“Bu?”
“Iya, Nduk?”
“Aku tadi mendengar orang mengucapkan ‘permisi’”
“Lebih baik, bukan?”
“Bu?”
“Dalem, Nduk,”
“Aku suka trotoar di sini. Lebar dan bergaris kuning.”
“Syukurlah kita tidak perlu tersandung.”
“Bu?”
“Iya, Nduk,”
“Nenek benar sudah mati, bukan?”
“Iya, kita mengunjungi pusaranya sehari setelah dia pergi,”
“Aku takut Jakarta belum berubah sepenuhnya, Bu”
“Iya, Nduk.”
“Bajaj sekarang berwarna biru dan tidak bising ya, Bu.”
“Iya, Ibu bisa mendengar suaramu dengan jelas sekarang.”
“Bu?”
“Iya, Nduk?”
“Aku tadi mendengar orang mengucapkan ‘permisi’”
“Lebih baik, bukan?”
“Bu?”
“Dalem, Nduk,”
“Aku suka trotoar di sini. Lebar dan bergaris kuning.”
“Syukurlah kita tidak perlu tersandung.”
“Bu?”
“Iya, Nduk,”
“Nenek benar sudah mati, bukan?”
“Iya, kita mengunjungi pusaranya sehari setelah dia pergi,”
“Aku takut Jakarta belum berubah sepenuhnya, Bu”
Jan 13, 2019
Tentang Buku
Sejujurnya, tahap pengumpulan buku bagiku saat ini adalah sebagai pemuas keinginan masa kecil. Dulu aku tidak punya banyak buku selain buku pelajaran sekolah. Tentu saja ibuku membelikan kami buku saat kami balita, untuk merangsang kesukaan membaca kami. Tetapi setelah kami masuk sekolah dasar, ibu tidak lagi berminat membelikan kami buku.
Padahal kami sudah sangat suka sekali membaca.
Huhu.
Kabar baiknya, keluarga kami saat itu masih bertahan berlangganan koran setiap hari. Dan kabar lebih baiknya lagi, ibu mengijinkan kami berlangganan majalah anak-anak mingguan.
Kami, dua anak perempuan yang haus bacaan, setiap pagi mengawasi pagar rumah dari balik jendela rumah sambil mengunyah sarapan. Ketika dering bel sepeda berbunyi dan setelahnya ada suara ceplos kertas tebal menyentuh lantai teras, kami segera berlomba mengambil koran pagi itu. Masing-masing dari kami harus mendapatkannya lebih dulu atau harus bersabar menunggu sampai pulang sekolah baru bisa membacanya karena beberapa menit setelah itu kami sudah harus berangkat ke sekolah. Kami saling berebut membaca satu dari tiga bagian koran. Bagian utama jelas diminta ibu, bagian olahraga diminta ayah, sementara sisanya adalah bagian perebutan kami.
Persaingan membaca itu semakin seru ketika hari Kamis tiba, hari dimana majalah mingguan kami diantarkan.
Ada cerita memalukan pada satu Kamis, dimana saat itukakakku sedang lengah, jadi ketika si pengantar majalah datang, aku cepat-cepat berlari ke depan rumah. Aku lupa bawa malam sebelumnya hujan turun dan membasahi lantai teras. Segera saja... JEDAAAGG!
Aku terpeleset, terpelanting dengan kepala menghantam lantai T_T
Sementara badanku bergelung di lantai sambil sibuk mengaduh, kakakku lewat mencemooh dan dengan santainya mengambil majalah itu. Ia membacanya lebih dulu minggu itu.
Kesal.
Buku pertama yang aku punyai lagi sejak ibu melarang membeli selain untuk keperluan sekolah adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban (Book 3). Hari itu dengan penuh suka cita kutunjukkan uang hasil tabunganku dan aku utarakan bahwa aku ingin menghabiskannya untuk sebuah buku. Harry Potter adalah kegandrunganku saat itu. Ibuku mengeluh tapi akhirnya kami berangkat juga ke toko buku.
Sesampainya di sana, kudapati bahwa tabunganku tidak cukup. Sedikit merengek, kupinta ibu untuk meminjamkan uang padaku untuk kemudian kuganti dengan potongan uang saku. Ibu mengeluh lagi, tapi toh ia memberiku tambahan uang tanpa perlu ganti :’)
Sampai SMA, aku masih belum diberi akses untuk membeli buku selain untuk keperluan sekolah. Bila luang atau bosan di kelas, aku pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca. Di sana aku bebas membaca meskipun harus mengarang alasan macam-macam pada penjaga bila aku datang saat jam pelajaran berlangsung.
Meski sering ke perpustakaan, ingatan akan buku yang kubaca agak samar. Aku pernah membaca Frankenstein, serial Goosebumps, serial Lima Sekawan, buku-buku Marah Roesli dan Abdul Muis, buku-buku Mira W, Fira Basuki, beberapa teenlit populer (siapa yang tidak pernah baca Dealova? Haha), koleksi ensiklopedia bergambar dan tentu saja Harry Potter...tapi ya begitu saja, aku tidak ingat detail isinya.
Sampai pada saat kuliah, terutama saat semester terakhir, aku mulai bisa menyisihkan uang sendiri. Lalu aku mulai membeli buku-buku sendiri, terus..terus..sampai aku mendapatkan uang sendiri dari hasil bekerja, aku mulai semakin menghabiskan uangku untuk buku. Aku mulai membeli buku-buku yang tidak terbeli saat aku masih kecil. Pembalasan dendamku..haha :p
Aku belum membuat anggaran khusus untuk buku, kesalahanku. Mungkin karena itulah aku sering merasa boros.
Tapi, toh, aku gampang memaafkan diriku sendiri soal itu :D
Satu kebiasaanku terkait buku adalah menghirup dalam-dalam kertasnya. Tiap buku, meskipun berada di naungan penerbit yang sama, memiliki aroma yang berbeda. Aku paling tidak suka aroma kertas tipis yang menyengat, tipikal kertas buram mesin fotokopi. Bila aku menemui buku dengan aroma seperti itu, sebaik apapun isinya, aku akan enggan menyentuhnya lagi atau malah tidak selesai kubaca sama sekali.
Aku pikir aku tidak akan segila tokoh-tokoh di buku Rumah Kertas yang ditulis Carlos María Domínguez.
Dalam buku itu dijabarkan jenis-jenis mereka ini, mulai dari pengumpul koleksi langka, petarung di area lelang, penimbun delapan belas ribu buku yang memiliki lantai khusus agar tidak tercemar hal keseharian, penyortir buku berdasarkan hubungan emosional penulisnya dan macam-macam.
Tidak, aku bukan salah satu dari jenis di atas.
Atau mungkin malah belum? :p
Tapi kemudian aku mencapai satu halaman yang bertulis
“...aku bisa melihat setapak jalan panjang yang menjalar dari larik ke larik, melintasi paragraf dan kadang-kadang terhenti lalu bercabang diagonal dari kanan ke kiri atau dari kiri ke kanan, atau berpencaran turun ke bawah.” ...
...
Ada juga, toh, yang berpikiran seperti itu T___T
Aku pikir saat aku melihat susunan kalimat dalam satu halaman, lalu mulai menelusuri celah-celah antar huruf dan katanya, aku sedang berlebihan dalam mengamati saja.
:')
Padahal kami sudah sangat suka sekali membaca.
Huhu.
Kabar baiknya, keluarga kami saat itu masih bertahan berlangganan koran setiap hari. Dan kabar lebih baiknya lagi, ibu mengijinkan kami berlangganan majalah anak-anak mingguan.
Kami, dua anak perempuan yang haus bacaan, setiap pagi mengawasi pagar rumah dari balik jendela rumah sambil mengunyah sarapan. Ketika dering bel sepeda berbunyi dan setelahnya ada suara ceplos kertas tebal menyentuh lantai teras, kami segera berlomba mengambil koran pagi itu. Masing-masing dari kami harus mendapatkannya lebih dulu atau harus bersabar menunggu sampai pulang sekolah baru bisa membacanya karena beberapa menit setelah itu kami sudah harus berangkat ke sekolah. Kami saling berebut membaca satu dari tiga bagian koran. Bagian utama jelas diminta ibu, bagian olahraga diminta ayah, sementara sisanya adalah bagian perebutan kami.
Persaingan membaca itu semakin seru ketika hari Kamis tiba, hari dimana majalah mingguan kami diantarkan.
Ada cerita memalukan pada satu Kamis, dimana saat itukakakku sedang lengah, jadi ketika si pengantar majalah datang, aku cepat-cepat berlari ke depan rumah. Aku lupa bawa malam sebelumnya hujan turun dan membasahi lantai teras. Segera saja... JEDAAAGG!
Aku terpeleset, terpelanting dengan kepala menghantam lantai T_T
Sementara badanku bergelung di lantai sambil sibuk mengaduh, kakakku lewat mencemooh dan dengan santainya mengambil majalah itu. Ia membacanya lebih dulu minggu itu.
Kesal.
Buku pertama yang aku punyai lagi sejak ibu melarang membeli selain untuk keperluan sekolah adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban (Book 3). Hari itu dengan penuh suka cita kutunjukkan uang hasil tabunganku dan aku utarakan bahwa aku ingin menghabiskannya untuk sebuah buku. Harry Potter adalah kegandrunganku saat itu. Ibuku mengeluh tapi akhirnya kami berangkat juga ke toko buku.
Sesampainya di sana, kudapati bahwa tabunganku tidak cukup. Sedikit merengek, kupinta ibu untuk meminjamkan uang padaku untuk kemudian kuganti dengan potongan uang saku. Ibu mengeluh lagi, tapi toh ia memberiku tambahan uang tanpa perlu ganti :’)
Sampai SMA, aku masih belum diberi akses untuk membeli buku selain untuk keperluan sekolah. Bila luang atau bosan di kelas, aku pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca. Di sana aku bebas membaca meskipun harus mengarang alasan macam-macam pada penjaga bila aku datang saat jam pelajaran berlangsung.
Meski sering ke perpustakaan, ingatan akan buku yang kubaca agak samar. Aku pernah membaca Frankenstein, serial Goosebumps, serial Lima Sekawan, buku-buku Marah Roesli dan Abdul Muis, buku-buku Mira W, Fira Basuki, beberapa teenlit populer (siapa yang tidak pernah baca Dealova? Haha), koleksi ensiklopedia bergambar dan tentu saja Harry Potter...tapi ya begitu saja, aku tidak ingat detail isinya.
Sampai pada saat kuliah, terutama saat semester terakhir, aku mulai bisa menyisihkan uang sendiri. Lalu aku mulai membeli buku-buku sendiri, terus..terus..sampai aku mendapatkan uang sendiri dari hasil bekerja, aku mulai semakin menghabiskan uangku untuk buku. Aku mulai membeli buku-buku yang tidak terbeli saat aku masih kecil. Pembalasan dendamku..haha :p
Aku belum membuat anggaran khusus untuk buku, kesalahanku. Mungkin karena itulah aku sering merasa boros.
Tapi, toh, aku gampang memaafkan diriku sendiri soal itu :D
Satu kebiasaanku terkait buku adalah menghirup dalam-dalam kertasnya. Tiap buku, meskipun berada di naungan penerbit yang sama, memiliki aroma yang berbeda. Aku paling tidak suka aroma kertas tipis yang menyengat, tipikal kertas buram mesin fotokopi. Bila aku menemui buku dengan aroma seperti itu, sebaik apapun isinya, aku akan enggan menyentuhnya lagi atau malah tidak selesai kubaca sama sekali.
Aku pikir aku tidak akan segila tokoh-tokoh di buku Rumah Kertas yang ditulis Carlos María Domínguez.
Dalam buku itu dijabarkan jenis-jenis mereka ini, mulai dari pengumpul koleksi langka, petarung di area lelang, penimbun delapan belas ribu buku yang memiliki lantai khusus agar tidak tercemar hal keseharian, penyortir buku berdasarkan hubungan emosional penulisnya dan macam-macam.
Tidak, aku bukan salah satu dari jenis di atas.
Atau mungkin malah belum? :p
Tapi kemudian aku mencapai satu halaman yang bertulis
...
Ada juga, toh, yang berpikiran seperti itu T___T
Aku pikir saat aku melihat susunan kalimat dalam satu halaman, lalu mulai menelusuri celah-celah antar huruf dan katanya, aku sedang berlebihan dalam mengamati saja.
:')
Jan 8, 2019
Barista yang Satu Itu
Barista itu sudah tersenyum saat menatapku, bahkan sebelum aku membuka pintu gerainya.
Ia menyapa lantang, dengan senyumnya yang jarang dikeluarkan.
Setidaknya ia menerimaku hari ini. Penerimaan yang lebih hangat dari biasanya.
Ternyata hari ini tidak semendung yang kukira.
Starbucks Asia Afrika, January 8th.
I will miss this place.
Ia menyapa lantang, dengan senyumnya yang jarang dikeluarkan.
Setidaknya ia menerimaku hari ini. Penerimaan yang lebih hangat dari biasanya.
Ternyata hari ini tidak semendung yang kukira.
Starbucks Asia Afrika, January 8th.
I will miss this place.
Dec 28, 2018
2016 - di Bandung Lebih Lama
Hujan turun sore ini.
Daun-daun tunduk sebentar.
Suhu buat gigil sedikit.
Sepertinya sama dengan sore di Agustus waktu itu.
Aku sendiri, tapi aku senyum.
Daun-daun tunduk sebentar.
Suhu buat gigil sedikit.
Sepertinya sama dengan sore di Agustus waktu itu.
Aku sendiri, tapi aku senyum.
Nov 23, 2018
tentang sidang tesis
Hai, Satu Orangutan!
Iya, beberapa bulan lalu memutuskan untuk mengganti nama blog ini, beserta alamatnya. Alasannya karena aku kuatir blog ini semakin banyak dibaca orang...sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan dari penciptaan blog ini.
Huehehe ribet emang.
Nah, apa kabar diriku akhir-akhir ini?
Seperti biasa, seperti beberapa bulan ke belakang, aku masih nggak stabil-stabil juga dalam menangani tesis. Walaupun sudah ada kemajuan (sedikit), yaitu aku berhasil melalui sidang pembahasan..meskipun hasilnya sudah kuekspektasi akan mengecewakan.
I really wasn't proud of my self, I didn't even relieved or happy because finally I could present my thesis research.
No, not at all.
Masa-masa sehabis sidang pembahasan justru bikin aku sering renang buat mencari momen 'lupa sebentar'.
Belum lagi setelah sidang pembahasan, ternyata aku harus menghadapi kenyataan kalau aku baru bisa ikut sidang ujian sebulan-setengah, kira-kira, karena jadwal para dosen yang sibuk.
Itu beneran mengecewakan.
Bukan, bukan aku kecewa sama para dosen itu.
Aku kecewa karena kenapa momennya seperti itu.
Paham nggak.
Momennya. Timingnya.
Aku sudah cerita ke beberapa orang. Tapi sepertinya nggak ada yang sepenuhnya mengerti kenapa aku merasa kecewa.
I tried to talk to them, but I ended up making funny face and act like it's not a big problem...the fact, it was and it is. Jadi mereka-mereka yang kuceritain ini akhirnya menganggap ninis-kalem-dan-selow-seperti-biasanya.
Mengapa ribet banget nulisnya duh :(
Intinya...aku kecewa sama keadaan ini.
Besok sepertinya waktu yang tepat untuk renang lagi.
Iya, beberapa bulan lalu memutuskan untuk mengganti nama blog ini, beserta alamatnya. Alasannya karena aku kuatir blog ini semakin banyak dibaca orang...sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan dari penciptaan blog ini.
Huehehe ribet emang.
Nah, apa kabar diriku akhir-akhir ini?
Seperti biasa, seperti beberapa bulan ke belakang, aku masih nggak stabil-stabil juga dalam menangani tesis. Walaupun sudah ada kemajuan (sedikit), yaitu aku berhasil melalui sidang pembahasan..meskipun hasilnya sudah kuekspektasi akan mengecewakan.
I really wasn't proud of my self, I didn't even relieved or happy because finally I could present my thesis research.
No, not at all.
Masa-masa sehabis sidang pembahasan justru bikin aku sering renang buat mencari momen 'lupa sebentar'.
Belum lagi setelah sidang pembahasan, ternyata aku harus menghadapi kenyataan kalau aku baru bisa ikut sidang ujian sebulan-setengah, kira-kira, karena jadwal para dosen yang sibuk.
Itu beneran mengecewakan.
Bukan, bukan aku kecewa sama para dosen itu.
Aku kecewa karena kenapa momennya seperti itu.
Paham nggak.
Momennya. Timingnya.
Aku sudah cerita ke beberapa orang. Tapi sepertinya nggak ada yang sepenuhnya mengerti kenapa aku merasa kecewa.
I tried to talk to them, but I ended up making funny face and act like it's not a big problem...the fact, it was and it is. Jadi mereka-mereka yang kuceritain ini akhirnya menganggap ninis-kalem-dan-selow-seperti-biasanya.
Mengapa ribet banget nulisnya duh :(
Intinya...aku kecewa sama keadaan ini.
Besok sepertinya waktu yang tepat untuk renang lagi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
Pa..
Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...
-
Halo Bulan Sepuluh..tesisku belum selesai juga :p Hari ini sedang duduk di sebuah tempat minum kopi, untuk menyelesaikan ini itu sedikit l...
-
Agak menyesal kenapa harus segampang itu menceritakan hal ketakutan masa lalu kepada orang. Kamu minta apa? Minta perhatian? Minta dikasih...
-
refleksi hari ini: ketika kamu berpikir kamu sudah berbuat benar dengan melimpahkan sebagian beban pikiran, itu ternyata salah. salah be...

