Dec 28, 2018

2016 - di Bandung Lebih Lama

Hujan turun sore ini.
Daun-daun tunduk sebentar.
Suhu buat gigil sedikit.
Sepertinya sama dengan sore di Agustus waktu itu.
Aku sendiri, tapi aku senyum.

Nov 23, 2018

tentang sidang tesis

Hai, Satu Orangutan!

Iya, beberapa bulan lalu memutuskan untuk mengganti nama blog ini, beserta alamatnya. Alasannya karena aku kuatir blog ini semakin banyak dibaca orang...sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan dari penciptaan blog ini.
Huehehe ribet emang.

Nah, apa kabar diriku akhir-akhir ini?
Seperti biasa, seperti beberapa bulan ke belakang, aku masih nggak stabil-stabil juga dalam menangani tesis. Walaupun sudah ada kemajuan (sedikit), yaitu aku berhasil melalui sidang pembahasan..meskipun hasilnya sudah kuekspektasi akan mengecewakan.






I really wasn't proud of my self, I didn't even relieved or happy because finally I could present my thesis research.
No, not at all.
Masa-masa sehabis sidang pembahasan justru bikin aku sering renang buat mencari momen 'lupa sebentar'.

Belum lagi setelah sidang pembahasan, ternyata aku harus menghadapi kenyataan kalau aku baru bisa ikut sidang ujian sebulan-setengah, kira-kira, karena jadwal para dosen yang sibuk.
Itu beneran mengecewakan.
Bukan, bukan aku kecewa sama para dosen itu.
Aku kecewa karena kenapa momennya seperti itu.
Paham nggak.
Momennya. Timingnya.

Aku sudah cerita ke beberapa orang. Tapi sepertinya nggak ada yang sepenuhnya mengerti kenapa aku merasa kecewa.
I tried to talk to them, but I ended up making funny face and act like it's not a big problem...the fact, it was and it is. Jadi mereka-mereka yang kuceritain ini akhirnya menganggap ninis-kalem-dan-selow-seperti-biasanya.

Mengapa ribet banget nulisnya duh :(

Intinya...aku kecewa sama keadaan ini.




Besok sepertinya waktu yang tepat untuk renang lagi.

Oct 17, 2018

Apa yang Tampak

Halo Bulan Sepuluh..tesisku belum selesai juga :p

Hari ini sedang duduk di sebuah tempat minum kopi, untuk menyelesaikan ini itu sedikit lagi.
Lalu bertemu orang-orang yang sibuk dengan, setidaknya, satu barang elektronik, entah itu ponsel atau laptop. Sama sepertiku.
Dan ada dua orang lelaki ini.
Dari jauh, mereka terlihat sebagai sepasang teman. Duduk, dengan frappe di depan mereka, menunduk memegang ponsel masing-masing, tanpa kontak mata pada temannya sendiri.
Aku tuduh mereka sebagai orang-orang masa kini: lebih asik berbicara dengan yang maya daripada yang mewujud.

Tapi ternyata mereka sedang main game online bersama.
Tertawa bersama.


Bahagia tetap ada saat kamu menikmati sesuatu bersama, meski tidak bersama.


Oct 16, 2018

(the real) Acknowledgement

1. Kepada makhluk-makhluk berbulu yang menemani di mana saja, terima kasih untuk dengkurnya yang menenangkan,
2. Kepada barista berpipi bulat di ujung Asia Afrika yang racikan kopinya enak dan selalu menambahkan "quiche" sebelum aku sempat menyelesaikan menyebut nama panjang makanan itu,
3. Kepada pengamen-pengamen bersuara serak di beberapa perempatan jalan, yang mengisi kebosanan di tengah menunggu nyala lampu berganti,
4. Kepada pesan 'semangat' dari orang asing yang kamu temui dan sempatkan berbasa-basi mengobrolkan cuaca saat mengantri di loket pemeriksaan fisik kendaraanmu yang jatuh tempo usia suratnya,
5. Kepada ibu dan bapak teman ibuku yang matanya berbinar tulus saat pertama kali berkenalan denganku,
6. Kepada ibunya ibuku yang selalu menyebut namaku sebagai nama cucu yang diingatnya untuk dikunjungi,
7. Kepada ibunya ayahku yang selalu menganggapku dan ibuku tidak cukup baik dan tidak cukup layak dalam hal apapun,
8. Kepada ayahnya ayahku yang selalu memberikan majalah-majalah bekasnya tiap aku berkunjung agar aku tidak merebut koran yang sedang dibacanya,
9. Kepada diri sendiri karena sudah berusaha memahami diri sendiri, walau sepertinya belum tuntas juga.



Sep 8, 2018

Hati-hati Bercerita

Agak menyesal kenapa harus segampang itu menceritakan hal ketakutan masa lalu kepada orang.
Kamu minta apa?
Minta perhatian? Minta dikasihani?

Kamu bisa hidup tanpa itu semua.
Kamu bisa hidup sendiri.

Biar semua yang sudah lalu terkubur saja.
Orang, toh, sebenarnya tidak akan ambil peduli tentang nafasmu.





Sep 1, 2018

Selewat Kutipan

Sebuah buku sains mengutip salah satu puisi dari Antonio Machado.
Karena penasaran, akhirnya aku menemukan salah satu puisi lainnya.


The Wind, One Brilliant Day - Poem by Antonio Machado
The wind, one brilliant day, called
to my soul with an odor of jasmine.

'In return for the odor of my jasmine,
I'd like all the odor of your roses.'

'I have no roses; all the flowers
in my garden are dead.'

'Well then, I'll take the withered petals
and the yellow leaves and the waters of the fountain.'

the wind left. And I wept. And I said to myself:
'What have you done with the garden that was entrusted to you?'





Beautiful yet miserable.

Aug 26, 2018

Tentang Cita-cita

- 2008-
Suatu hari, di teras sebuah rumah, duduk satu perempuan dan satu laki-laki.
"Kamu tahu apa pelajaran kesukaanku?"
"Apa?" tanya laki-laki itu, dengan nada yang sebenarnya tidak peduli juga.
"Fisika," jawab si perempuan segera.
"Oh..kenapa begitu?" kali ini si lelaki sedikit tertarik.
"Seru, tentang alam ini, pasti ada penjelasan logisnya,"
Lelaki itu hanya tersenyum masam, mengingat dia membenci pelajaran eksakta. Dia kembali memainkan ujung bajunya, tapi melanjutkan, "Lalu pelajaran lain?"
"Biologi!" jawab lawannya segera.
"Dan kenapa itu?"
"Karena, bayangkan saja kalau suatu hari kita diculik alien. Lalu bangun dalam keadaan terpenjara kemudian tubuh kita sedang diteliti. Para alien tidak paham tentang tubuh kita, jadi mereka menanyakan ini itu, bagaimana metabolisme kita, bagaimana struktur tulang kita...."
Si lelaki menatapku tak percaya, tapi tetap menyimak.
"Aku merasa bertanggung jawab kalau aku sampai tidak paham cara kerja tubuhku sendiri!"
Si lelaki terbahak, kemudian mengalihkan pembicaraan dengan iming-iming semangkuk bakso di suatu tempat.



- 2018 -
Sebuah kendaraan berisi lima orang, sepi, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
"Dek, ingat nggak cita-cita kamu waktu sekolah dasar? Apa?
"Jadi wartawan," jawab si adik mantap, lalu tersenyum sendiri.
"Iya. Cita-citamu nggak umum. Saat teman sebayamu ingin jadi dokter, guru, polisi, kamu yakin memilih ingin menjadi penulis dan astronot."
Si adik mengerling kakaknya takjub, ia lalu ingat kalau punya keinginan seperti itu. Tak heran dulu ia sangat berusaha menonjol di pelajaran ilmu alam dan sains.
"Iya benar juga.." bisik si adik pelan, sambil membayangkan masa depannya dalam versi yang lain..








~~



Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...