Apr 12, 2023

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah tapi sebentar, kadang merasa bersalah tapi sebentar saja. Jadi sepertinya memang harus dicurahkan seperti ini sebagai prosesku menerima kepergian Papa.


Banyak hal yang masih ingin aku sampaikan buat Papa. Tentang hari-hariku di Malang, tentang Janu dan kebiasaan-kebiasaannya yang makin mirip Papa.

Tentu saja aku ingin tahu tentang perasaan Papa dua tahun terakhir ini, pasti tidak mudah buat Papa untuk adaptasi di fase hidup Papa baru. Tapi aku begitu egois, merasa penuh dengan kehidupanku sendiri, sehingga Papa ada di nomor sekian dalam prioritas-prioritas kehidupanku saat itu.


"Aku kangen Papa. Aku sayang Papa."

Andai aku punya banyak keberanian untuk bilang itu langsung ke Papa waktu Papa masih ada. Aku ingin Papa tahu itu, aku kepingin Papa tahu kalau aku masih butuh Papa. 

Aku ingin Papa tahu kalau Papa sangat berarti buatku selama ini.

Aku juga ingin tahu, apa Papa bangga ke aku? Apa Papa betul-betul bahagia punya anak seperti aku? Rasanya belum banyak hal yang bisa aku beri buat Papa.

Bahkan terakhir kali kita bicara, kita habis bertengkar. Aku ingat tatapan Papa terakhir buatku: tatapan sedih dan bersalah. Seharusnya aku yang mengalah, dan aku begitu pengecut untuk mengakui itu.

Aku menyesal karena itu. Ada banyak tangisan yang susah keluar karena mengingatnya. 


Hari terakhir aku melihat tubuh Papa, aku hanya berani memegang pipi Papa, menangis sambil berusaha agar suaraku terdengar jelas
di dekat telinga Papa.

Pipi Papa masih sedikit hangat dan aku harap permintaan maafku hari itu masih terdengar Papa.


"With you far away, I still think of you a hundred times a day"


Playlist tentang Papa

Apr 21, 2022

​Januari adalah bulan pertama dan banyak hal terjadi untuk pertama kalinya di bulan itu.


Salah satu hal yang membekas adalah saat pertama kali aku meninggalkan Janu di rumah (bersama ayahnya).

Bagi orang lain mungkin hal itu terdengar remeh, tapi tidak buatku. Saat itu usia Janu sudah 2 tahun lebih 2 bulan, sudah masanya ia sadar dan terbiasa bahwa selalu ada aku di sisinya. 

Meskipun dia sedang kesal dan marah padaku, ujung-ujungnya dia selalu mencariku untuk sekedar peluk dan gendong. Jadilah aku ini semacam tempatnya kembali dari apapun yang sedang dia kerjakan.


Kemudian suatu hari di bulan Januari 2022, tiba-tiba team leader proyekku memutuskan bahwa tim harus bertemu untuk diskusi tatap muka di kampus. Diberi kemewahan dan kenyamanan berupa kesempatan bekerja secara daring, instruksi itu cukup membuat aku panik.

Tidak mungkin aku membawa Janu ke kampus karena pasti dia akan mondar-mandir penuh ingin tahu. Di sisi lain kalau aku sudah tidak enak hati untuk (sering) menolak permintaan TL-ku.

Jadi hari itu aku memutuskan untuk meninggalkan Janu di rumah. Kebetulan ayahnya sedang tidak masuk kantor karena sedang mengawasi renovasi rumah kami.

“Aku ke kampus naik gojek. Nanti jemput aku ya.” Itu spontan aku ucapkan. Tiba-tiba aku merasa aku harus memberikan tantangan juga untuk ayahnya Janu, karena selama ini Janu belum pernah pergi jauh berdua saja dengan ayahnya :P


Dan.. aku pergi begitu saja.

Sepanjang jalan aku terus mengirim pesan ke si ayah.

“Janu ngapain?”

“Dia nyariin aku nggak?”

“Nangis nggak?”

“Habis ini waktunya mandi.”

“Kalo ada bakso lewat beliin aja biar anteng.”

Dan dibalas singkat-singkat sama bapake 😅

Dec 11, 2021

things you need to forgive yourself for

"1. Write about things you need to forgive yourself for." 

mungkin yang paling harus aku maafkan dari diriku adalah terlalu berlebihan dalam mengungkapkan emosi. 

adalah baikbaik saja kalau aku terkadang marah dan memprotes keadaan. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang menangis tanpa perlu menjelaskan sebabnya. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang merasa amat sangat senang sampai senyuman ini membuat mata menyipit. 
adalah baikbaik saja kalau aku terkadang terlalu mencintai meskipun tidak masuk akal menurut orangorang kebanyakan. 

 adalah baikbaik saja untuk jujur menunjukkan dirimu yang sebenarnya, sesekali, tanpa merasa perlu pembenaran atau validasi.

Oct 5, 2021

the warmest memory

aku tumbuh dengan banyak kekesalan di hati yang menumpuk setiap saatnya. 
kekesalan hati dari keluarga, dan tidak semua paham dengan hal ini. (seharusnya aku juga tidak meminta orang lain buat memahami ini, tapi kadang aku lelah.) 

 suatu hari saat, seperti biasa, aku berdebat dengan mama lewat pesan singkat. kita tahu pesan singkat sukar merefleksikan apa yang sebenarnya dirasa. jadi aku rasa kami sama-sama salah mengartikan emosi masing-masing...kami menjadi lebih sering bertengkar saat lebih sering tidak bertemu. 
"ingat, dia dulu pernah berjasa juga buatmu." seolah-olah hal yang aku ingat selalu keburukan papa. 
ya memang.. untuk saat ini banyak hal buruk yang selalu kuingat tentangnya. banyak kepedihan hati datang dari sikapnya yang pasif, sikap yang tidak melindungi keluarganya sendiri. 

tapi..justru..hal yang sering kuingat saat aku punya anak sekarang, adalah beberapa kehangatan yang pernah aku rasakan dengan papa. jauh saat aku masih kecil, masih TK saat itu. 
saat aku belum mengenal benci dan persoalan harta. persoalan gender. 
persoalan keterbisaanku. 

 jawabanku: disuapi makan sebelum berangkat sekolah berupa nasi dan ikan goreng yang dikepal bulat-bulat olehnya. makananku selalu habis saat itu. 
 sering kupraktikan pada anakku, 
dan sering membuatku tersenyum getir saat teringat kenangannya.

Jun 16, 2019

Kamu Ada

Catatan 3 April 2019


Suatu hari seorang teman mengeluh, "Sekarang tampilan instagramku penuh dengan foto bayi. Sejak menikah dan punya anak, mereka suka upload tentang bayiiii terus"
Aku tertawa sedikit sambil memaklumi, "Sudah beda interest dan concern, Ti."
Dunia mereka pasti tentunya berubah.
Dan mungkin suatu saat aku akan sering menuliskannya.
Seperti saat ini.

Hari ini aku bertemu dengan beberapa teman dekat untuk berfoto bersama. Mungkin itu adalah sesi foto terakhir bersama mereka sebelum aku meninggalkan Bandung. Pertemuan kami berakhir pada sore hari, tinggal aku dan seorang teman yang ingin lebih lama untuk mencari mainan.
Aku memisahkan diri dari dia sebentar, lalu menuju satu drug store.
Setelah itu, temanku itu mencariku dan mengajak pulang.
Di tengah mall, rupanya sedang ada festival durian, buah favoritku.
Dia melontarkan ide bagaimana kalau kami makan durian dulu sebentar.
AKu agak ragu, lagipula entah kenapa aku tidak begitu ingin memakannya, tapi toh tetap kuiyakan juga akhirnya.
Kami makan durian sebuah, dan rasanya benar-benar nikmat.
"Memangnya orang hamil beneran nggak boleh makan durian ya?" tanyaku spontan sambil melahap butir ke-sekian.
"Nggak tahu. Aku malah baru dengar itu," jawabnya ringan.
Aku terdiam saja sambil terus menghabiskan sisa durian.

Sesampainya aku di kamar kos, aku mengambil barang yang kubeli di drug store tadi.
Aku buka dan aku gunakan sesuai petunjuk.
Ada dua garis merah terang di sana.




Rasa durian terakhir. Terima kasih.

Mar 26, 2019

Sekeping Luasan.

Saat awal rencana membangun hunian, aku punya satu permintaan.
Terserah apapun rencananya, aku hanya ingin yang ini terwujud.

"Sisakan satu petak kecil di bagian belakang untuk menjadi terbuka.
Biarkan tanah menutupi pondasi betonnya.
Biarkan tanamanku kelak leluasa menghirup dan menghidu."

Maka terwujudlah, meskipun banyak tapi yang menjadi syarat.



Tidak banyak yang tahu, sesungguhnya
aku hanyalah menginginkan pandangku lepas ke sana,
pada sepetak langitku.

Jan 15, 2019

Jakarta Belum Berubah (part 1)

“Bu?”
“Iya, Nduk.”
“Bajaj sekarang berwarna biru dan tidak bising ya, Bu.”
“Iya, Ibu bisa mendengar suaramu dengan jelas sekarang.”



“Bu?”
“Iya, Nduk?”
“Aku tadi mendengar orang mengucapkan ‘permisi’”
“Lebih baik, bukan?”



“Bu?”
“Dalem, Nduk,”
“Aku suka trotoar di sini. Lebar dan bergaris kuning.”
“Syukurlah kita tidak perlu tersandung.”



“Bu?”
“Iya, Nduk,”
“Nenek benar sudah mati, bukan?”
“Iya, kita mengunjungi pusaranya sehari setelah dia pergi,”
“Aku takut Jakarta belum berubah sepenuhnya, Bu”




Jan 13, 2019

Tentang Buku

Sejujurnya, tahap pengumpulan buku bagiku saat ini adalah sebagai pemuas keinginan masa kecil. Dulu aku tidak punya banyak buku selain buku pelajaran sekolah. Tentu saja ibuku membelikan kami buku saat kami balita, untuk merangsang kesukaan membaca kami. Tetapi setelah kami masuk sekolah dasar, ibu tidak lagi berminat membelikan kami buku.
Padahal kami sudah sangat suka sekali membaca.
Huhu.
Kabar baiknya, keluarga kami saat itu masih bertahan berlangganan koran setiap hari. Dan kabar lebih baiknya lagi, ibu mengijinkan kami berlangganan majalah anak-anak mingguan.

Kami, dua anak perempuan yang haus bacaan, setiap pagi mengawasi pagar rumah dari balik jendela rumah sambil mengunyah sarapan. Ketika dering bel sepeda berbunyi dan setelahnya ada suara ceplos kertas tebal menyentuh lantai teras, kami segera berlomba mengambil koran pagi itu. Masing-masing dari kami harus mendapatkannya lebih dulu atau harus bersabar menunggu sampai pulang sekolah baru bisa membacanya karena beberapa menit setelah itu kami sudah harus berangkat ke sekolah. Kami saling berebut membaca satu dari tiga bagian koran. Bagian utama jelas diminta ibu, bagian olahraga diminta ayah, sementara sisanya adalah bagian perebutan kami.

Persaingan membaca itu semakin seru ketika hari Kamis tiba, hari dimana majalah mingguan kami diantarkan.
Ada cerita memalukan pada satu Kamis, dimana saat itukakakku sedang lengah, jadi ketika si pengantar majalah datang, aku cepat-cepat berlari ke depan rumah. Aku lupa bawa malam sebelumnya hujan turun dan membasahi lantai teras. Segera saja... JEDAAAGG!
Aku terpeleset, terpelanting dengan kepala menghantam lantai T_T
Sementara badanku bergelung di lantai sambil sibuk mengaduh, kakakku lewat mencemooh dan dengan santainya mengambil majalah itu. Ia membacanya lebih dulu minggu itu.
Kesal.

Buku pertama yang aku punyai lagi sejak ibu melarang membeli selain untuk keperluan sekolah adalah Harry Potter dan Tawanan Azkaban (Book 3). Hari itu dengan penuh suka cita kutunjukkan uang hasil tabunganku dan aku utarakan bahwa aku ingin menghabiskannya untuk sebuah buku. Harry Potter adalah kegandrunganku saat itu. Ibuku mengeluh tapi akhirnya kami berangkat juga ke toko buku.
Sesampainya di sana, kudapati bahwa tabunganku tidak cukup. Sedikit merengek, kupinta ibu untuk meminjamkan uang padaku untuk kemudian kuganti dengan potongan uang saku. Ibu mengeluh lagi, tapi toh ia memberiku tambahan uang tanpa perlu ganti :’)

Sampai SMA, aku masih belum diberi akses untuk membeli buku selain untuk keperluan sekolah. Bila luang atau bosan di kelas, aku pergi ke perpustakaan sekolah untuk membaca. Di sana aku bebas membaca meskipun harus mengarang alasan macam-macam pada penjaga bila aku datang saat jam pelajaran berlangsung.
Meski sering ke perpustakaan, ingatan akan buku yang kubaca agak samar. Aku pernah membaca Frankenstein, serial Goosebumps, serial Lima Sekawan, buku-buku Marah Roesli dan Abdul Muis, buku-buku Mira W, Fira Basuki, beberapa teenlit populer (siapa yang tidak pernah baca Dealova? Haha), koleksi ensiklopedia bergambar dan tentu saja Harry Potter...tapi ya begitu saja, aku tidak ingat detail isinya.

Sampai pada saat kuliah, terutama saat semester terakhir, aku mulai bisa menyisihkan uang sendiri. Lalu aku mulai membeli buku-buku sendiri, terus..terus..sampai aku mendapatkan uang sendiri dari hasil bekerja, aku mulai semakin menghabiskan uangku untuk buku. Aku mulai membeli buku-buku yang tidak terbeli saat aku masih kecil. Pembalasan dendamku..haha :p
Aku belum membuat anggaran khusus untuk buku, kesalahanku. Mungkin karena itulah aku sering merasa boros.
Tapi, toh, aku gampang memaafkan diriku sendiri soal itu :D

Satu kebiasaanku terkait buku adalah menghirup dalam-dalam kertasnya. Tiap buku, meskipun berada di naungan penerbit yang sama, memiliki aroma yang berbeda. Aku paling tidak suka aroma kertas tipis yang menyengat, tipikal kertas buram mesin fotokopi. Bila aku menemui buku dengan aroma seperti itu, sebaik apapun isinya, aku akan enggan menyentuhnya lagi atau malah tidak selesai kubaca sama sekali.
Aku pikir aku tidak akan segila tokoh-tokoh di buku Rumah Kertas yang ditulis Carlos María Domínguez.
Dalam buku itu dijabarkan jenis-jenis mereka ini, mulai dari pengumpul koleksi langka, petarung di area lelang, penimbun delapan belas ribu buku yang memiliki lantai khusus agar tidak tercemar hal keseharian, penyortir buku berdasarkan hubungan emosional penulisnya dan macam-macam.
Tidak, aku bukan salah satu dari jenis di atas.
Atau mungkin malah belum? :p

Tapi kemudian aku mencapai satu halaman yang bertulis
“...aku bisa melihat setapak jalan panjang yang menjalar dari larik ke larik, melintasi paragraf dan kadang-kadang terhenti lalu bercabang diagonal dari kanan ke kiri atau dari kiri ke kanan, atau berpencaran turun ke bawah.”
...
...
Ada juga, toh, yang berpikiran seperti itu T___T
Aku pikir saat aku melihat susunan kalimat dalam satu halaman, lalu mulai menelusuri celah-celah antar huruf dan katanya, aku sedang berlebihan dalam mengamati saja.

:')

Jan 8, 2019

Barista yang Satu Itu

Barista itu sudah tersenyum saat menatapku, bahkan sebelum aku membuka pintu gerainya.
Ia menyapa lantang, dengan senyumnya yang jarang dikeluarkan.

Setidaknya ia menerimaku hari ini. Penerimaan yang lebih hangat dari biasanya.

Ternyata hari ini tidak semendung yang kukira.




Starbucks Asia Afrika, January 8th.
I will miss this place.

Ternyata Memang Bukan

Because a little white lies won't eat and kill you anyway.. :)

Dec 28, 2018

2016 - di Bandung Lebih Lama

Hujan turun sore ini.
Daun-daun tunduk sebentar.
Suhu buat gigil sedikit.
Sepertinya sama dengan sore di Agustus waktu itu.
Aku sendiri, tapi aku senyum.

Nov 23, 2018

tentang sidang tesis

Hai, Satu Orangutan!

Iya, beberapa bulan lalu memutuskan untuk mengganti nama blog ini, beserta alamatnya. Alasannya karena aku kuatir blog ini semakin banyak dibaca orang...sesuatu yang sebenarnya bukan tujuan dari penciptaan blog ini.
Huehehe ribet emang.

Nah, apa kabar diriku akhir-akhir ini?
Seperti biasa, seperti beberapa bulan ke belakang, aku masih nggak stabil-stabil juga dalam menangani tesis. Walaupun sudah ada kemajuan (sedikit), yaitu aku berhasil melalui sidang pembahasan..meskipun hasilnya sudah kuekspektasi akan mengecewakan.






I really wasn't proud of my self, I didn't even relieved or happy because finally I could present my thesis research.
No, not at all.
Masa-masa sehabis sidang pembahasan justru bikin aku sering renang buat mencari momen 'lupa sebentar'.

Belum lagi setelah sidang pembahasan, ternyata aku harus menghadapi kenyataan kalau aku baru bisa ikut sidang ujian sebulan-setengah, kira-kira, karena jadwal para dosen yang sibuk.
Itu beneran mengecewakan.
Bukan, bukan aku kecewa sama para dosen itu.
Aku kecewa karena kenapa momennya seperti itu.
Paham nggak.
Momennya. Timingnya.

Aku sudah cerita ke beberapa orang. Tapi sepertinya nggak ada yang sepenuhnya mengerti kenapa aku merasa kecewa.
I tried to talk to them, but I ended up making funny face and act like it's not a big problem...the fact, it was and it is. Jadi mereka-mereka yang kuceritain ini akhirnya menganggap ninis-kalem-dan-selow-seperti-biasanya.

Mengapa ribet banget nulisnya duh :(

Intinya...aku kecewa sama keadaan ini.




Besok sepertinya waktu yang tepat untuk renang lagi.

Oct 17, 2018

Apa yang Tampak

Halo Bulan Sepuluh..tesisku belum selesai juga :p

Hari ini sedang duduk di sebuah tempat minum kopi, untuk menyelesaikan ini itu sedikit lagi.
Lalu bertemu orang-orang yang sibuk dengan, setidaknya, satu barang elektronik, entah itu ponsel atau laptop. Sama sepertiku.
Dan ada dua orang lelaki ini.
Dari jauh, mereka terlihat sebagai sepasang teman. Duduk, dengan frappe di depan mereka, menunduk memegang ponsel masing-masing, tanpa kontak mata pada temannya sendiri.
Aku tuduh mereka sebagai orang-orang masa kini: lebih asik berbicara dengan yang maya daripada yang mewujud.

Tapi ternyata mereka sedang main game online bersama.
Tertawa bersama.


Bahagia tetap ada saat kamu menikmati sesuatu bersama, meski tidak bersama.


Oct 16, 2018

(the real) Acknowledgement

1. Kepada makhluk-makhluk berbulu yang menemani di mana saja, terima kasih untuk dengkurnya yang menenangkan,
2. Kepada barista berpipi bulat di ujung Asia Afrika yang racikan kopinya enak dan selalu menambahkan "quiche" sebelum aku sempat menyelesaikan menyebut nama panjang makanan itu,
3. Kepada pengamen-pengamen bersuara serak di beberapa perempatan jalan, yang mengisi kebosanan di tengah menunggu nyala lampu berganti,
4. Kepada pesan 'semangat' dari orang asing yang kamu temui dan sempatkan berbasa-basi mengobrolkan cuaca saat mengantri di loket pemeriksaan fisik kendaraanmu yang jatuh tempo usia suratnya,
5. Kepada ibu dan bapak teman ibuku yang matanya berbinar tulus saat pertama kali berkenalan denganku,
6. Kepada ibunya ibuku yang selalu menyebut namaku sebagai nama cucu yang diingatnya untuk dikunjungi,
7. Kepada ibunya ayahku yang selalu menganggapku dan ibuku tidak cukup baik dan tidak cukup layak dalam hal apapun,
8. Kepada ayahnya ayahku yang selalu memberikan majalah-majalah bekasnya tiap aku berkunjung agar aku tidak merebut koran yang sedang dibacanya,
9. Kepada diri sendiri karena sudah berusaha memahami diri sendiri, walau sepertinya belum tuntas juga.



Sep 8, 2018

Hati-hati Bercerita

Agak menyesal kenapa harus segampang itu menceritakan hal ketakutan masa lalu kepada orang.
Kamu minta apa?
Minta perhatian? Minta dikasihani?

Kamu bisa hidup tanpa itu semua.
Kamu bisa hidup sendiri.

Biar semua yang sudah lalu terkubur saja.
Orang, toh, sebenarnya tidak akan ambil peduli tentang nafasmu.





Sep 1, 2018

Selewat Kutipan

Sebuah buku sains mengutip salah satu puisi dari Antonio Machado.
Karena penasaran, akhirnya aku menemukan salah satu puisi lainnya.


The Wind, One Brilliant Day - Poem by Antonio Machado
The wind, one brilliant day, called
to my soul with an odor of jasmine.

'In return for the odor of my jasmine,
I'd like all the odor of your roses.'

'I have no roses; all the flowers
in my garden are dead.'

'Well then, I'll take the withered petals
and the yellow leaves and the waters of the fountain.'

the wind left. And I wept. And I said to myself:
'What have you done with the garden that was entrusted to you?'





Beautiful yet miserable.

Aug 26, 2018

Tentang Cita-cita

- 2008-
Suatu hari, di teras sebuah rumah, duduk satu perempuan dan satu laki-laki.
"Kamu tahu apa pelajaran kesukaanku?"
"Apa?" tanya laki-laki itu, dengan nada yang sebenarnya tidak peduli juga.
"Fisika," jawab si perempuan segera.
"Oh..kenapa begitu?" kali ini si lelaki sedikit tertarik.
"Seru, tentang alam ini, pasti ada penjelasan logisnya,"
Lelaki itu hanya tersenyum masam, mengingat dia membenci pelajaran eksakta. Dia kembali memainkan ujung bajunya, tapi melanjutkan, "Lalu pelajaran lain?"
"Biologi!" jawab lawannya segera.
"Dan kenapa itu?"
"Karena, bayangkan saja kalau suatu hari kita diculik alien. Lalu bangun dalam keadaan terpenjara kemudian tubuh kita sedang diteliti. Para alien tidak paham tentang tubuh kita, jadi mereka menanyakan ini itu, bagaimana metabolisme kita, bagaimana struktur tulang kita...."
Si lelaki menatapku tak percaya, tapi tetap menyimak.
"Aku merasa bertanggung jawab kalau aku sampai tidak paham cara kerja tubuhku sendiri!"
Si lelaki terbahak, kemudian mengalihkan pembicaraan dengan iming-iming semangkuk bakso di suatu tempat.



- 2018 -
Sebuah kendaraan berisi lima orang, sepi, masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
"Dek, ingat nggak cita-cita kamu waktu sekolah dasar? Apa?
"Jadi wartawan," jawab si adik mantap, lalu tersenyum sendiri.
"Iya. Cita-citamu nggak umum. Saat teman sebayamu ingin jadi dokter, guru, polisi, kamu yakin memilih ingin menjadi penulis dan astronot."
Si adik mengerling kakaknya takjub, ia lalu ingat kalau punya keinginan seperti itu. Tak heran dulu ia sangat berusaha menonjol di pelajaran ilmu alam dan sains.
"Iya benar juga.." bisik si adik pelan, sambil membayangkan masa depannya dalam versi yang lain..








~~



Aug 15, 2018

Relief


that feeling when you finally talk again with your old friend :)





May 31, 2018

Biar Aku Menyelam Lagi

refleksi hari ini:


ketika kamu berpikir kamu sudah berbuat benar dengan melimpahkan sebagian beban pikiran, itu ternyata salah.
salah besar.

aku mengaku, aku sudah salah mempercayakan sebuah rahasia pada yang lain
selain diriku.

kalau begitu, sekarang, ganjarannya,
aku harus menyembunyikan diri lagi

lebih dalam.

semangat menyelam!
( ^,^)9



May 20, 2018

A post shared by Connie Sun (@cartoonconnie) on




dan teman berbagi yang paling baik adalah diri sendiri.
jadi, selamat menulis! :)

Pa..

Baru kali ini nulis sesuatu tentang Papa. Beberapa bulan terakhir adalah waktu-waktu membingungkan, kadang sedih tapi sebentar, kadang marah...